BNPT Endus Sel-sel Teroris di Batam

Saud usman n

Metrobatam.com, Batam – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengendus adanya sel-sel penyebaran paham terorisme di Batam. Indikasi itu terlacak dari dunia maya maupun laporan masyarakat.

“Jelas, kami rutin memantau dan ada banyak,” kata Kepala BNPT Komjen Pol Saud Usman Nasution usai mengisi acara Seminar Nasional dan Rapat Kerja Cabang GP Ansor Kota Batam di Harmoni One Hotel Batamcenter, Sabtu (13/2/2016).

Pihaknya mengklaim, berdasar penelusuran lewat keterampilan teknologi dan informasi (IT), terendus banyak paham-paham ekstrim dan cenderung mengarah pada terorisme yang disebarkan lewat jagat maya. Baik itu melalui laman perambah digital (website) maupun melalui media sosial.

Begitu juga, kata dia, laporan langsung dari masyarakat. Saud jelaskan selama ini sudah ada laporan-laporan yang masuk terkait indikasi paham-paham radikal tersebut di Batam.

“Kita melihat potensi-potensi itu, dimana mereka ada kita ikuti (pantau) terus,” kata mantan Kepala Datasemen Khusus 88 Anti Teror tersebut.

Sayangnya, Saud tak merinci nama-nama sel jaringan teroris yang potensinya sudah terendus di Batam itu. Namun, dia mengungkap beberapa ciri kelompok atau orang yang berpotensi menyebarkan paham radikal. Antara lain, lebih sering bersikap eksklusif dan tidak mau bergaul, dan juga suka mengkafirkan pihak lain yang tak sepaham dengannya.

“Waspada juga jika putra-putri kita mulai ada keanehan (mengikuti paham atau ajaran tertentu),” kata dia.

Mantan Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Sumatera Selatan itu juga menyentil salah satu pejabat di BP Batam, Dwi Djoko Wiwoho yang kala itu menjabat Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang diduga ikut bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang kini berganti nama jadi Islamic State (IS). Menurut Saud, potensi penyebaran paham radikal itu bisa menyasar siapa saja, dan dari aspek mana saja.

“Kalau yang itu (Djoko) karena dipengaruhi oleh istri dan anaknya sehingga dia berangkat ke sana,” terangnya.

Saud juga menyebut, potensi berkembangnya paham terorisme bisa dilandasi motif yang tak terkait langsung dengan suatu wilayah. Misalnya, peledakan bom Bali pada 2002 silam, padahal targetnya bukan warga Bali.

“Waktu itu kan sasarannya orang Amerika, dipikirnya bule (warga asing) itu sama saja, makanya ketika dibom yang jatuh banyak korban malah orang Australia, bukan Amerika,” papar pria yang menjabat Kepala BNPT sejak 9 Oktober 2014 silam tersebut.

Karena itu, Saud juga meminta masyarakat turut aktif memantau berkembangnya paham-paham radikal di sekitar tempat tinggalnya. Tak hanya itu, warga juga diminta melapor agar ada tindaklanjut sebelum jatuhnya korban.

“Kalau misalnya terpantau lewat media sosial atau secara manual, segera laporkan pada aparat keamanan terkait,” pinta dia.(and)

Sumber: Batampos.co.id