oleh

Pendidikan Dini Picu Masalah Perilaku pada Anak?

-Tak Berkategori-61 views

pendidikan

Metrobatam.com, Jakarta: Sebuah studi mengungkap, peningkatan stres akademik di usia muda menjadi salah satu faktor tingginya prevalensi gangguan konsentrasi dan perilaku pada anak.

Para peneliti dari University of Miami memiliki hipotesis bahwa, peningkatan standar akademik sejak tahun 1970 memberikan kontribusi terhadap kenaikan diagnosis gangguan attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau yang dikenal dengan istilah hiperaktif pada anak.

ADHD adalah suatu kondisi neurobiologis yang dipengaruhi perilaku usia, dan lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sejak tahun 1981 hingga 1997, anak-anak berusia 3-5 tahun yang telah diajari membaca dan berhitung meningkat sebanyak 30 persen.

Presentase anak-anak yang sudah mengikuti program penuh juga meningkat dari 17 persen pada 1970 menjadi 58 persen pada pertengahan 2000-an.

Pada 1997, anak yang berusia 6-8 tahun menghabiskan waktu lebih dari dua jam dalam seminggu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal sepuluh tahun sebelum periode ini, anak-anak mengerjakan tugas mereka kurang dari satu jam.

“Ketika kami meneliti literatur kebijakan pendidikan dan masyarakat untuk studi yang mendokumentasikan waktu anak-anak dihabiskan untuk kegiatan akademik, kami terkejut untuk menemukan bagaimana substansial pendidikan telah berubah sejak 70-an,” kata Jeffrey P. Brosco, profesor di University of Miami

Karena kegiatan akademik telah meningkat, waktu untuk bermain dan bersantai anak mengalami penurunan. Bermain, bagi sebagian besar anak menjadi hal yang asing.

Broco menambahkan, tuntutan akademis yang diberikan pada anak-anak secara negatif memengaruhi perilaku mereka.

“Misalnya, memasukkan anak setahun lebih muda dari seharusnya ke Taman Kanak-kanak berkesempatan bisa memicu masalah perilaku,” tambahnya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics iniĀ  tidak bermaksud menyalahkan program pendidikan dini bagi anak. Namun, para peneliti meminta untuk mengkaji ulang program tersebut.

“Pada usia muda, yang paling penting bagi anak-anak adalah bisa bermain bebas, berinteraksi sosial dan menggunakan imajinasi,” pungkasnya.