Astaga.! Siswa dan Guru di Xinjiang Cina Dilarang Berpuasa

Seorang wanita muslim etnis Kazakh melakukan salat di areal tempat tinggal selama musim panas di kawasan padang rumput Pegunungan Tian Shan, Lujiaowan, Tacheng, Xinjiang, RRC, Kamis (1/8). Bulan Ramadan yang datang bertepatan dengan musim panas dijalani umat muslim khususnya di Daerah Otonomi Uygur Xinjiang, RRC, selama sekitar 17 jam dari waktu Imsak hingga berbuka puasa setiap harinya selama bulan suci Ramadan. ANTARA/Ismar Patrizki

Metrobatam.com, Beijing – Pemerintah Cina secara mengejutkan memberlakukan pembatasan kepada muslim untuk menyambut Ramadan di wilayah bergolak, Xinjiang. Anggota Partai Komunis Cina (CPC) diminta untuk tidak berpuasa selama periode itu.

Pembatasan tersebut cukup mengejutkan setelah sebelumnya pemerintah Cina berjanji membiarkan umat muslim di Xinjiang berpuasa secara damai. Namun, pada Senin malam, Cina secara resmi mengeluarkan perintah mencegah perayaan Ramadan dan mengatakan puasa adalah ilegal dan bertentangan dengan prinsip Partai Komunis Cina. Larangan berpuasa itu antara lain diarahkan kepada pejabat pemerintah, pelajar, dan guru.

Bacaan Lainnya

“Anggota-anggota partai, pelatih, pegawai negeri sipil, pelajar, dan anak-anak tidak bisa berpuasa di bulan Ramadan dan tidak dapat mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan,” tulis AP, mengutip pemberitahuan yang ditampilkan di situs resmi Kota Korla, sebuah kota di pusat Xinjiang.

“Sebuah situs yang dikelola biro pendidikan daerah Shuimogou di ibu kota regional Urumqi menyiarkan pemberitahuan Senin minggu lalu mencegah siswa dan guru-guru dari semua sekolah memasuki masjid untuk kegiatan keagamaan pada bulan Ramadan,” tambah laporan itu, seperti yang dilansir IB Times pada Selasa, 7 Juni 2016.

Cina secara keseluruhan memiliki sekitar 20 juta orang Islam dan 13 juta di antaranya adalah muslim Uighur yang tinggal di Xinjiang. Adapun Ramadan disambut di wilayah otonom, provinsi, dan kota-kota lain, termasuk Gansu, Ningxia, dan Beijing.

Beberapa tahun belakangan sering terjadi kekerasan etnis di Xinjiang, yang menyebabkan pemerintah menerapkan banyak pembatasan.(metronews/tempo)

Pos terkait