Politisi PDIP Rieke Diah Pitalok : Kicauan Fahri Soal ‘Babu’ Sentilan Buat Semua

Politisi PDIP Rieke Diah Pitaloka

Metrobatam.com, Jakarta – Politisi PDIP Rieke Diah Pitaloka menilai kicauan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah soal anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang merupakan teguran bagi semua pihak. Rieke menganalisis kata ‘babu’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurutnya, arti kata ‘babu’ memang menggambarkan kondisi memprihatinkan dari para tenaga kerja tersebut.

“Kicauan Fahri Hamzah di twitter seperti menyentil kita semua. Sebagian marah dan mengecam. Tapi, mari kita lihat arti kata babu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: Orang yang bekerja sebagai pembantu dalam rumah. Ada babu cuci, babu masak dan sebagainya,” kata Rieke melalui pesan tertulisnya, Rabu (25/1).

Read More

“Upah terserah yang memberi, jam kerja juga terserah majikan. Tawar-tawaran pun tidak dijamin norma hukum,” sambungnya.

Rieke mengakui konotasi dari kata ‘babu’ terkesan kasar. Namun, hal tersebut merupakan fakta soal nasib yang terjadi pada para pembantu rumah tangga (PRT). Mereka diperlakukan bukan layaknya ‘pekerja’ tetapi sudah mirip seperti ‘babu’.

“Memang ada konotasi yang terkesan kasar dari kata babu. Tapi itu lah kenyataannya, hidup jadi begitu kasar dan keras bagi mereka yang jadi babu dan diperlakukan sebagai babu, bukan pekerja,” terangnya.

Perbedaan nasib antara pekerja rumah tangga dan ‘babu’ ini dikarenakan faktor pendidikan, perjanjian dan aturan kontrak kerja. Dengan adanya perjanjian tersebut, hak-hak pekerja wajib untuk dipenuhi.

“Sementara kalau Pekerja Rumah Tangga, harus jelas jenjang pendidikan sebagai pekerja, perjanjian dan kontrak kerja jelas, ada kewajiban sebagai Pekerja yang harus dipenuhi pekerja dan ada hak-hak sebagai Pekerja yang wajib dipenuhi pemberi kerja, seperti upah, one day off, jaminan sosial dan sebagainya,” tandasnya.

Oleh sebab itu, Rieke menyarankan agar pemerintah memperbaiki sistem perlindungan hukum terhadap TKI. Tujuannya, agar para pekerja asal Indonesia mendapat jaminan kesejahteraan di negara lain.

“Tidak perlu saling menghujat dan menyalahkan. Kita sama-sama rumuskan yang terbaik, agar negara Penerima TKI pun tidak main-main terhadap Pekerja dari Indonesia,” pungkasnya.

merdeka/mb

Related posts