Sebelum Tewas, Mapala UII Sebut Nama Penganiaya di Gunung Lawu

Metrobatam, Yogyakarta – Sri Handayani (47), ibunda Asyits Asyam (21) sempat berkomunikasi dengan putranya untuk terakhir kalinya. Di kesempatan itu, perempuan Sri bertanya apa dan siapa yang menyebabkan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) tergolek tak berdaya.

“Dia (Asyam) cerita kronologinya dan saya catat di kertas. Asyam cerita kalau punggungnya disabeti pakai rotan, lehernya berat karena membawa air terlalu banyak, punggung dipukuli 10 kali, diinjak. Dia bilang sakit,” kata Handayani kepada wartawan di rumahnya di Kelurahan Caturharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Senin (23/1).

Read More

Handayani berusaha tegar dan bertanya kemudian mencatat setiap jawaban Asyam di selembar kertas atas saran seorang dokter. Asyam, kata Handayani, juga berusaha menjawab meski kondisinya sangat lemah.

“Saya tanya, (dipukuli) siapa? Lalu Asyam sebut nama Yudi,” imbuhnya.

Tak hanya itu, dengan kemampuan bicaranya yang terbatas, Asyam juga sempat meminta maaf kepada ibunya.

“Tangan saya diciumi terus sama Asyam. Saya antar dia saat sakaratul maut, dia minta diputar (posisi tubuhnya) ingin menghadap ke saya,” kata Handayani sambil terisak.

Hingga saat itu, Handayani juga belum ditemui satupun panitia The Great Camping (TGC). Baru sore hari Sabtu (21/1), Handayani bertemu dengan seorang mahasiswa yang mengantarkan putera tunggalnya itu ke RS Bethesda.

“Saya lupa namanya. Tapi katanya, Asyam sampai ke kampus (pulang dari Lereng Gunung Lawu) diare. Makanya diantar ke RS Bethesda,” imbuhnya.

Paman Asyam, Seno Aji (57) menyampaikan pihak keluarga sangat menyayangkan peristiwa ini. Ditambah lagi hingga saat ini pihak kampus belum menemui keluarga untuk menjelaskan apa yang terjadi saat TGC di lereng Gunung Lawu hingga Asyam meninggal dunia.

“Jadi sama saja saya dengan mbak dan mas (wartawan). Kami hanya tahu dari katanya-katanya. Dan kalau saja ibunya telat datang ke rumah sakit, kita tidak akan tahu apa. Karena Asyam sempat cerita langsung ke ibunya, sebelum dia meninggal,” urai Seno.

Paman Asyam yang lain, Lilik Margono (51) juga mempertanyakan tak ada satu pun dari pihak panitia yang menghubungi keluarga saat Asyam dibawa ke rumah sakit. Keluarga justru dapat kabar dari seorang teman Asyam yang tidak mengikuti kegiatan TGC.

“Kenapa dibawa ke rumah sakit, kok tidak menghubungi keluarga. Padahal di surat izin keluarga, sudah ada nomor HP yang bisa dihubungi jika terjadi apa-apa,” ujar Lilik.(mb/detik)

Related posts