GP Ansor Nilai Permintaan Maaf Ahok ke KH Ma’aruf AMIN Tidak Tulus

Metrobatam, Jakarta – Sikap dan etika tim penasihat hukum terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dinilai berlebihan terhadap Ketua Umum MUI Ma’aruf Amin ketika menjadi saksi dalam persidangan Selasa 31 Januari 2017 lalu berbuntut panjang.

Pasalnya, seluruh elemen organisasi khususnya berbasis agama Islam tidak terima jika panutannya diintimidasi oleh dalam persidangan. Sebenarnya, Ahok pun telah meminta maaf atas hal tersebut.

Read More

Namun, menurut Ketua Hubungan Antar Lembaga GP Ansor, Redim Okto Fudin permintaan maaf itu tidaklah disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas dari dalam dirinya.

“Menurut kami tidak. Kenapa? Karena kalau mau tulus tak usah lah buat youtube disebar,” kata Redim dalam Talkshow Akhir Pekan Terhangat Radio Sindotrijaya Network POLEMIK di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu (4/2).

Saat ini, Redim menjelaskan saat menjadi saksi pengacara Ahok telah melakukan intimidasi kepada Ma’aruf. Sebab itu, dirinya beserta GP Ansor sedang mengkaji dari celah hukum terkait dengan intimidasi yang dilakukan.

“Kalau bicara proses hukum atau kajian yabg dikatakan pak Ahok. Kami punya lenbaga bantuan hukum. Ini sudah kami telaah seberapa jauh. Kalau ada kita akn lakukan proses hukum,” tutupnya.

Sementara Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Timur menyatakan kekecewaan mereka atas perlakuan kasar Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan tim pengacaranya terhadap KH Ma’ruf Amin. Bahkan, mereka menuntut perbuatan itu diproses secara hukum karena termasuk kategori hate speech (ujaran kebencian).

Tuntutan itu disampaikan Ketua Tanfidziyah PW NU Jatim KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah. “Kami menyesalkan perlakuan Basuki Tjahaja Purnama bersama tim pengacaranya kepada KH Ma’ruf Amin,” katanya dalam konferensi pers kemarin. “Warga NU Jatim jangan dulu terpancing emosi. Tetap dalam satu komando,” tandasnya.

Dalam konferensi pers itu, PW NU Jatim menyuarakan lima sikap. Pertama, mengajak seluruh warga NU mengutamakan stabilitas dan persatuan nasional. Kedua, PW NU menegaskan kekecewaan terhadap sikap kasar dan sarkastis Ahok beserta tim pengacaranya dalam sidang kasus penistaan agama Selasa lalu (31/1).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ahok bersama pengacaranya mencecar Ma’ruf dengan pernyataan dan pertanyaan yang mendiskreditkan tokoh NU itu. Bahkan, sempat muncul ancaman untuk melaporkan Ma’ruf ke pihak yang berwenang. Meski, kemudian hal itu diklarifikasi oleh Ahok.

Pada poin ketiga pernyataannya, PW NU Jatim mendesak pihak berwajib mengusut Ahok dan tim pengacaranya. “Ucapan Ahok dan tim pengacaranya secara nyata telah melanggar undang-undang hate speech (ujaran kebencian).” Demikian bunyi pernyataan PW NU Jatim.

Mutawakkil menegaskan, pernyataan sikap kemarin telah diputuskan melalui diskusi panjang. Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, itu menyatakan telah melakukan klarifikasi kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) di Jakarta terkait dengan dinamika itu.

Soal kabar bahwa Ma’ruf memaafkan Ahok, Mutawakkil belum sepenuhnya percaya. “Ada juga berita yang sampai kepada kami, belum pernah KH Ma’ruf menyampaikan menerima maaf,” tegasnya.

Menurut dia, Jatim merupakan tempat lahir, basis, serta barometer NU di seluruh dunia sehingga penting untuk menunjukkan ketegasan. Hal itu tentu dinanti masyarakat nahdliyin.

Dalam Islam, jika terjadi ketidakharmonisan, kesalahpahaman, dan ketersinggungan kepada seseorang, jalan terbaik adalah memaafkan. “Tapi, ini bukan lagi urusan person. Beliau adalah simbol NU.” Demikian dimuat jawapos.com. (mb/okezone)

Related posts