Hendak Foto dengan Anak Harimau, Putri Malah Diterkam

Metrobatam, Batu – Keinginan Putri, Siswi TK asal Kediri berfoto bersama anak harimau gagal. Anak harimau yang menerkam Putri diketahui jenis Benggala.

“Jenis satwa yang melukai korban (Putri) adalah anak Harimau Benggala yang masih berusia enam bulan,” kata Marketing and Public Relations Jatim Park Grup Titik S Ariyanto dikonfirmasi detikcom melalui sambungan telepon, Rabu (15/3).

Read More

Saat peristiwa terjadi menurut Titik, anak harimau tersebut diduga panik akibat suasana gaduh di lokasi pemotretan satwa.

“Ini terjadi, karena satwa dalam kondisi panik yang dipicu anak-anak sekolah yang berteriak-teriak, dan membuat gaduh suasana,” ujarnya.

Akibat luka serius yang dialami berupa cakaran di dada dan punggung, Putri pun harus menjalani operasi di RS Baptis Kota Batu. Kini Putri masih menjalani perawatan intensif.

Pihak manajemen Jatim Park II berjanji akan bertanggungjawab terhadap kejadian tersebut. “Kami akan bertanggung jawab, sepenuhnya soal penanganan medis korban,” ujar Titik.

Pihaknya juga memastikan akan mengevaluasi dari kejadian ini. Pihaknya berharap, peristiwan serupa tidak terulang, sehingga pengunjung tetap bisa mendapatkan kenyamanan selama berada di lokasi.

Kembali liarnya anak harimau tersebut juga diduga akibat kurangnya atensi pawang terhadap harimau sehingga kembali ke tingkah laku semula.

“Kadang sang pawang tidak kontinyu melakukan penguatan yang positif. Perilaku dalam proses belajar satwa ada penguatan behaviour. Biasanya kalau melakukan sesuatu, hewan dikasih hadiah, dia akan kuat perilaku itu. Kadang berfoto sudah kebiasaan, tapi ketika misalnya ada penguatan yang nggak berjalan, cenderung kembali ke tingkah laku awal. Kelas umur, sejarah harimau juga penting dianalisis,” ujar ahli tingkah laku hewan Fakultas Kehutanan IPB Ir. Dones Rinaldi, M.Sc. saat dihubungi, Rabu (15/3) malam.

Dones mengatakan, satwa dapat terbiasa melakukan rutinitas seperti berfoto dengan pengunjung asalkan ada hadiah yang diberikan pawang terhadap satwa. Ia mengimbau agar satwa, termasuk harimau, seminimal mungkin diberi hukuman.

“Kalau berfoto dikasih hadiah, mungkin enjoy. Kalau hadiahnya berkurang itu dalam penguatan perilaku ada punishment and reward, punishment misal kalau melakukan itu harus dihukum, tapi dalam teori satwa hukuman harus sesedikit mungkin,” terang Dones.

Dones mengimbau agar satwa buas jangan terlalu dieksploitasi. Faktor usia dan tempat lahir merupakan faktor lain yang mempengaruhi agresivitas hewan.

“Saya cenderung semua binatang buas jangan dieksploitasi. Makanya usia hewan penting, juga dia lahir di kebun binatang atau pernah di alam. Naluri hewan buas kalau sudah timbul, sulit diperbaiki,” tutupnya.(mb/detik)

Related posts