Tol Trans Sumatera, Bakauheni -Terbanggi Besar Bisa Ditempuh Dua Jam

Metrobatam, Lampung – Progres pembangunan konstruksi jalan tol Trans Sumatera Bakauheni-Terbanggi Besar telah mencapai sekitar 20%. Proyek sepanjang 140 kilometer (km) itu masih terus dikerjakan oleh empat kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Proyek ini sendiri ditargetkan selesai pada bulan Juni 2018, atau sebelum Asian Games berlangsung.

Pemimpin Proyek Ruas Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Paket 1 Dan 2, Slamet Sudrajat, mengatakan setiap jalur jalan tol ini memiliki dua lajur dengan luas total 7,2 meter, dengan masing-masing lajur selebar 3,6 meter. Nantinya jalan tol ini bisa dilalui lebih dari 20 ribu kendaraan per hari.

Read More

“Jalan tol ini ada dua jalur, setiap jalurnya ada dua lajur. Setiap lajur kendaraan itu lebarnya 3,6 meter. Kemudian bahu jalan, luar dan dalam itu total 3 meter. Dengan itu, mungkin sekitar 20 ribu lebih kendaraan perhari bisa (melewati jalan tol),” ungkap Slamet kepada detikFinance di proyek pengerjaan jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung, Rabu (1/3).

Dengan adanya jalan tol ini, kata Slamet, maka perjalanan dari Bakauheni menuju Terbangi Besar yang biasa ditempuh dalam waktu kisaran 4 jam melalui jalan nasional akan menjadi jauh lebih cepat hingga 50%. “Jadi sekitar 1,5 jam hingga sekitar 2 jam waktu tempuhnya,” kata Slamet.

Slamet juga mengatakan, dengan terintegerasi langsung dengan Pelabuhan Bakauheni, adanya jalan tol ini juga bisa bermanfaat bagi pengguna jalan dalam sisi lalulintas angkutan barang, hingga pembangunan daerah setempat bisa dipacu.

“Jadi dengan pembangunan jalan tol ini, ada multiplier effectnya ke pembangunan di sepanjang koridor jalan tol ini. Kemudian juga arus lalulintas barang dan jasa bisa lebih lancar, sehingga dengan kelancaran transportasi itu harga produk mestinya bisa lebih murah,” tuturnya.

Konstruksi Capai 20%
Pembangunan konstruksi proyek jalan Tol Bakauheni-Terbanggi besar sepanjang 140 kilometer (km) masih terus dikerjakan. PT Hutama Karya (Persero) Tbk ditunjuk sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) proyek tersebut.

Pemimpin Proyek Ruas Jalan Tol Bakauheni Terbanggi Besar Paket I dan II, Slamet Sudrajat, mengatakan hingga kini proyek yang dikerjakan oleh empat kontraktor di empat paket pengerjaan itu masih terus digenjot. Untuk paket pertama, mulai dari Bakauheni km 0 hingga Sidomulyo km 39,400 dikerjakan oleh PT PP Tbk (PTPP).

“Paket satu, dari km 0 sampai dengan km 39,400 dikerjakan oleh PTPP, itu progresnya (konstruksi) sudah 36,7%. Di sana, pengerasan beton yang sudah diselesaikan itu sekitar 4,9 km,” ungkap Slamet kepada detikFinance di lokasi proyek, Lampung, Rabu (1/3).

Selanjutnya, kata Slamet, untuk paket II dari Sidomulyo km 39,400 hingga Kota Baru km 80, atau dengan panjang sekitar 40 km, progresnya mencapai 19,5%.

Di paket ini, lanjut Slamet, pengerasan beton untuk jalan utama sudah sepanjang 6,3 kilometer, ditambah dengan akses-akses lainnya sekitar 3 kilometer. Paket II dikerjakan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

“Kemudian paket selanjutnya, dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) dari kilometer 80 sampai kilometer 109,500 itu progresnya 18,9%. Di sana sudah ada pengerasan beton juga sepanjang 3,4 kilometer,” kata Slamet.

Dan untuk paket terakhir atau paket IV yang dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero), yakni dari km 109,500 sampai dengan km 140,900, progresnya mencapai 8,8% dan telah dilakukan pengerasan beton sepanjang 3,5 kilometer.

Slamet mengatakan, jika dihitung dari pengerasan jalan atau progres pengerjaan konstruksi per paketnya, maka progres secara keseluruhan dari proyek jalan tol sepanjang 140 km ini telah mencapai sekitar 20%.

Hingga saat ini, pengerjaan yang ditargetkan rampung sebelum gelaran Asian Games, atau tepatnya pada Juni 2018 ini masih terus dikerjakan secara simultan.

“Kalau lihat panjang rigid dan progres per paketnya, mungkin sekitar 20% (progresnya) secara keseluruhan. Di sini semua jenis pekerjaan di kerjaan, jadi simultan. Karena setiap ada tanah bebas, langsung di pekerjaan pembersihan tempat kerja, clearing, langsung diikuti pengerjaan berikutnya. Jadi ada pengerasan beton, ada lapis pondasi, ada pengerjaan struktur jembatan, pekerjaan tanah, galian timbunan,” tutur Slamet. (mb/detik)

Related posts