Sel ISIS Indonesia Doktrin Pelaku Teror dengan Cerita Akhir Zaman

Metrobatam, Jakarta – Sel-sel organisasi terorisme ISIS di Indonesia menyebarkan pahamnya dengan menanamkan pemahaman bahwa pada masa sekarang dunia sudah memasuki era akhir zaman.

“Sudah lama para jihadis percaya saat ini adalah akhir zaman. Pandangan tentang akhir zaman ini dicampur dengan paham takfiri,” kata peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin di Jakarta, Jumat (7/4).

Bacaan Lainnya

Menurut dia, para calon pelaku teror yang hendak direkrut dibuat untuk percaya bahwa Suriah adalah tempat yang diberkati pada akhir zaman. Para calon pelaku akhirnya percaya karena melihat hal itu sesuai dengan ayat-ayat di Alquran dan hadist bahwa di Suriah akan terjadi peperangan seperti yang terjadi saat ini.

“Selain itu dikatakan bahwa di akhir zaman akan berdiri khilafah. Nah ISIS mengklaim sebagai khilafah minhaju alal nubuwah,” katanya.

Para calon pelaku teror juga dibuat yakin bahwa di akhir zaman, manusia terbagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan, kelompok yang baik yakni pengikut Imam Mahdi dan kelompok yang jahat yakni pengikut Dajjal. Menurut Solahudin, kisah itulah yang ditanamkan ke pikiran calon pelaku teror oleh para pengikut ISIS untuk merekrut orang-orang baru di Indonesia.

Solahudin memperkirakan gerakan bawah tanah terorisme di Indonesia masih terus berjalan. Kendati demikian, mereka melakukannya secara individu. Sementara mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi Manzi melihat bahwa kualitas pembuatan alat teror bom yang dibuat oleh para pelaku terorisme beberapa tahun belakangan mengalami penurunan.

“Ini salah asuh. Orang-orang yang tidak punya kapasitas tapi dipaksakan untuk membuat bom, ya hasilnya acak-acakan. Bom panci dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya kemampuan memadai. Desainnya enggak benar,” kata Ali Fauzi.

Diungkapkan juga, keterlibatan perempuan dalam kasus terorisme merupakan hal yang baru di Tanah Air. “Perempuan terlibat teror ini baru,” tambah Solahudin.

Komentarnya tersebut merujuk pada keterlibatan Dian Yulia Novi (DYN) dan Ika Puspitasari (IP) yang merupakan jaringan teroris Bekasi, Jawa Barat, dengan pimpinan selnya, M. Nur Solihin (MNS).

Mereka ditangkap pada Desember 2016. Menurut dia, keterlibatan perempuan dalam aksi teror disebabkan pemimpin militan ISIS dari Indonesia, Bahrun Naim pernah mengajak perempuan untuk ikut melakukan aksi jihad karena hanya sedikit laki-laki yang mau.

“Bahrun bilang kalau di Suriah aksi amaliyah tidak wajib dilakukan oleh perempuan. Tapi di Indonesia, perempuan boleh melakukan aksi teror karena laki-lakinya pada pengecut. Itu dalam percakapan Telegram pada Juni 2016,” katanya merujuk pada informasi dan riset yang dilakukannya.(mb/okezone)

Pos terkait