12 Mahasiswa Terisolir di Wuhan, Aceh Tetapkan Siaga I

Metrobatam, Jakarta – Pemerintah Aceh menetapkan siaga I dan membuka dua posko penanganan Virus Corona, salah satu posko berpusat di Banda Aceh tepatnya di Dinas Sosial Aceh. Hal itu dilakukan karena ada sekitar 12 mahasiswa asal Aceh yang kini berada di Wuhan, China dan terisolir demi terhindar dari terjangkit Virus Corona.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah A Gani mengatakan Plt Gubernur Aceh telah mengambil kebijakan terkait dengan wabah Virus Corona yang bersumber di Wuhan dengan menginstruksikan kepada seluruh pejabat Aceh untuk siaga 1.

Bacaan Lainnya

Saat ini pihaknya terus melakukan komunikasi di kedutaan Indonesia di China, dan dengan masyarakat Aceh terutama yang tinggal di Wuhan.

“Posko ini dibentuk untuk memastikan bahwa kontak dengan masyarakat di Wuhan dan China terus terjalin. Kedua, Pemerintah Aceh memastikan bahwa logistik masyarakat Aceh di Wuhan bisa terjamin. Ketiga, jika ada kesempatan untuk evakuasi maka kita harapkan mereka segera dikeluarkan dari sana,” kata Saifullah kepada wartawan, Minggu (26/1).

Pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan perwakilan mahasiswa yang masih terisolir di Wuhan. Saat ini 12 mahasiswa Aceh tersebut di bawah pantauan Pemerintah Aceh selama 24 jam, dan kebutuhan logistik mereka di Wuhan ditanggung.

Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri menambahkan sejauh ini semua mahasiswa Aceh di Wuhan dalam kondisi aman dan terbebas dari Virus Corona.

“Seluruh mahasiswa Aceh terbebas dari Virus Corona. Masyarakat Aceh yang memiliki kerabat di Wuhan untuk tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah,” kata Alhudri.

Sementara itu, seorang mahasiswa Aceh di Wuhan, Alfi Riyan mengatakan, keadaan mereka saat ini masih dalam kondisi baik. Meskipun, harus terkurung di dalam rumah.

Pemerintah Aceh, kata dia, juga sudah mengirim bantuan dalam bentuk uang untuk membeli makanan yang higienis.

“Kita dalam keadaan stabil, dalam artian kita bertahan diri di kamar. Pemerintah Aceh mensuport dan memberi bantuan, agar tidak ragu memesan makanan yang higienis,” katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com dari Banda Aceh.

12 Mahasiswa Jatim di Wuhan Aman

Sementara itu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memastikan 12 orang mahasiswa asal Jawa Timur yang saat ini tengah berada di Wuhan, China dalam kondisi aman di asrama mereka, meski kota tersebut tengah dilanda penyebaran virus corona.

Khofifah menyebut para mahasiswa itu kini masih tertahan di Wuhan. Sebab akses keluar masuk kota di bagian China tengah itu ditutup pemerintah setempat. Maka itu mereka tengah berada di asrama mereka masing-masing.

“Seluruh mahasiswa asal Indonesia, termasuk dari Jatim berada di Asrama. Mereka dalam kondisi aman meskipun untuk saat ini mereka belum bisa meninggalkan Wuhan karena transportasi dari dan ke Wuhan ditutup untuk sementara waktu,” kata Khofifiah, Minggu (26/1).

Sedikitnya ada 12 mahasiswa asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tengah mengambil beasiswa bahasa Mandarin di Central China Normal University (CCNU), Wuhan.

Berdasarkan surat resmi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Wuhan, mereka terdiri dari 8 mahasiswa strata satu dan 4 mahasiswa strata 2. Mereka bagian dari 93 mahasiswa dan WNI yang berada di Wuhan.

Seluruh mahasiswa dan WNI tersebut, kata Khofifah saat ini dimonitor langsung oleh KBRI di Beijing dan PPI Tiongkok Cabang Wuhan, yang terus berkoordinasi dengan KBRI dan Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kementerian Luar Negeri.

“Dikabari kalau seluruh mahasiswa rata-rata tinggal di asrama dan selalu dalam pantauan kampus. Bahkan, hampir seluruh kampus melakukan tindakan pencegahan dengan memberikan masker, sabun cair, dan thermometer gratis kepada mahasiswa,” tuturnya.

Khofifah juga mengatakan dirinya terus berkoordinasi dengan Rektor Unesa untuk terus berkomunikasi, memantau, dan memastikan seluruh mahasiswa asal Jatim di Wuhan berada pada lokasi yang aman dan dalam kondisi sehat.

“Pemprov Jatim akan melakukan yang terbaik. Karena mereka adalah anak-anak Jatim dan ini menjadi perhatian kita. Termasuk di antaranya mengupayakan opsi pemulangan jika itu merupakan langkah terbaik,” kata dia. (mb/cnn indonesia)

Pos terkait