Bupati Minta 30 Dokter Spesialis, WNI yang Dikarantina: Terima Kasih Warga Natuna

Metrobatam, Jakarta – Sebanyak 238 WNI dari Hubei menjalani observasi selama 14 hari di Natuna. Berdasarkan keterangan Kemenkes, kondisi para WNI sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Melalui video, para WNI itu berbaris dan menyatakan kondisi mereka sehat-sehat saja, serta berterima kasih pada warga Natuna yang telah memperbolehkan wilayahnya menjadi tempat observasi.

Read More

“Kami baik-baik saja dan sehat-sehat saja, terima kasih warga Natuna,” ujar WNI dalam salah satu video.

Dalam rangka sterilisasi, tenda observasi WNI di Natuna, Riau akan disemprot desinfektan setiap hari. Tempat observasi juga telah mendapat pengujian dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Wiendra Waworuntu mengatakan pada Selasa (4/2), hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan tumbuhnya jamur dan bakteri di sekitar wilayah observasi.

“Penyemprotan desinfektan itu bukan sekedar untuk membunuh virus ya, tapi tujuan utamanya biar daerah sekitar tenda steril, bebas dari bakteri dan kuman sekaligus mengusir lalat dan nyamuk,” ujarnya.

Selama menjalani masa observasi, mereka diperbolehkan menghubungi keluarga dan menyebarkan kegiatan sehari-harinya. Sebagian WNI yang menjalani masa observasi juga sudah mulai aktivitas perkuliahan lewat daring.

“Saat ini mereka sudah mendapatkan sarana komunikasi untuk berhubungan dengan keluarga, mereka juga diperbolehkan menyebarkan kegiatan sehari-hari di tempat observasi, sudah ada juga beberapa mahasiswa yang memulai kuliah online,” kata Dirjen P2P, Anung Sugihantono melalui sambungan telepon dalam konferensi pers, Selasa (4/2).

Pulihkan Kecemasan Warga Natuna

Bupati Natuna, Kepulauan Riau, Abdul Hamid Rizal, meminta sebanyak 30 dokter spesialis didatangkan untuk mengatasi masalah kecemasan yang tengah dialami warga Natuna pascakedatangan 237 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China.

Menurutnya, sebanyak 30 dokter spesialis yang di dalamnya juga terdapat psikiater dibutuhkan untuk menangani masalah psikologi yang tengah dihadapi warga Natuna.

“Kami minta sebanyak-banyaknya, mungkin sampai 20 atau 30 orang, termasuk psikiater. Ini masalah psikologi. Was-was itu masalah psikologi, bukan masalah kesehatan,” kata Abdul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa (4/2).

Dia menerangkan bahwa pihaknya sudah membuka pos-pos kesehatan untuk warga Natuna saat ini. Menurutnya, warga yang merasa mengalami gangguan kondisi kesehatan bisa langsung mendatangi pos kesehatan untuk menjalani pemeriksaan.

Selanjutnya, kata Abdul, pihaknya bersama TNI dan Polri juga akan membangun pos terpadu di pinggir Pantai Piwang, Natuna.

“Kami juga akan membuat suatu posko terpadu di lapangan yang di pinggir Pantai Piwang, itu kita akan bangun pos terpadu itu bersama TNI, Polri dan pemerintah daerah,” katanya.

Lebih jauh, Abdul juga menyampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto akan berkantor di Natuna untuk memantau secara langsung kondisi WNI asal Wuhan yang tengah menjalani proses observasi sekaligus memantau masyarakat Natuna.

Menurutnya, Terawan akan berangkat ke Natuna sehari setelah mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo membahas virus corona atau tepatnya pada Rabu (5/2).

“Sebetulnya hari ini beliau (Menkes) mau berangkat, tapi karena ada rapat terbatas tentang yang kita bicarakan itu sehingga beliau menunda besok ke Natuna bersama-sama kami berada di sana,” ujarnya.

Sebelumnya, 238 WNI asal Wuhan. Para WNI itu dikarantina usai menjalani evakuasi dari China terkait penyebaran virus novel corona (2019-nCov).

Salah satu alasan penolakan adalah warga merasa pemerintah melakukan secara dadakan. Bahkan Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti menyebut kebijakan itu dipaksakan dan ia mengaku tidak diberi tahu lebih dulu. (mb/cnn indonesia/detik)

Related posts