Dampak Virus Corona, IMF Perkirakan Hambat Pertumbuhan Ekonomi Global

Metrobatam, Jakarta – IMF (International Monetary Fund) memperkirakan wabah virus corona diperkirakan bakal memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Namun, perlambatan ini menurut lembaga moneter itu kemungkinan akan diikuti oleh pemulihan yang cepat dan tajam.

Sebelumnya, IMF sempat menyatakan kalau pertumbuhan ekonomi di 2020 merupakan yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Ekonomi dunia pada 2020 diperkirakan hanya tumbuh 2,9 persen.

Read More

“Diperkirakan akan ada pengurangan (angka pertumbuhan) di 0,1-0,2 persen,” jelas Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, dalam konferensi Global Women’s Forum di Dubai, Minggu (16/2).

Menurutnya dampak sebenarnya dari wabah ini bakal terpengaruh dari seberapa cepat penanganan virus corona oleh pemerintah China. Saat ini virus corona telah menewaskan lebih dari 1.600 orang. Lima diantaranya tewas di luar China.

“Saya meminta tak ada yang langsung membuat kesimpulan yang prematur. Masih banyak ketidakjelasan disini. Kami masih memperkirakan skenario, belum membuat proyeksi, tanyakan lagi kepada saya dalam 10 hari ke depan,” lanjut Georgieva.

Menurutnya, masih terlalu dini untuk menyebut bagaimana dampak luas dari epidemi ini. Sebab, hingga saat ini belum diketahui seberapa cepat China bakal bisa mengatasi hal ini.

Tidak diketahui juga apakah virus ini akan menyebar ke seluruh dunia atau tidak. Namun, sektor pariwisata dan transportasi jelas terpukul oleh kasus ini.

Ia lantas membandingkan dampak SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada 2002 terhadap ekonomi dunia. Saat itu, menurutnya ekonomi China belum sebesar sekarang. Pada 2002, ekonomi China hanya 8 persen dari ekonomi global. Sekarang, China memegang hampir seperlima ekonomi dunia (19 persen).

“China sewajarnya akan mengalami perlambatan, berubah dari status pertumbuhan kecepatan tinggi, menjadi pertumbuhan berkualitas tinggi.”

Bulan lalu, China dan AS telah menandatangani kesepakatan untuk mengurangi ketegangan perang dagang kedua negara. Keduanya adalah pemegang ekonomi terbesar kedua dan pertama di dunia.

“(Setelah penandatanganan itu) sebenarnya kami memprediksi China akan mengalami sedikit kemajuan pada 2020.”

Tapi dengan adanya wabah ini, menurutnya dunia perlu memperhatikan jika ada perlemahan pertumbuhan akibat ketidakpastian. (mb/cnn indonesia)

Related posts