Perkumpulan Arkeolog Desak Anies Batalkan Formula E di Monas

Metrobatam, Jakarta – Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) mendesak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk membatalkan rencana perhelatan Formula E di kawasan Cagar Budaya, Monumen Nasional (Monas).

Hal ini disampaikan Ketua IAAI Wiwin Djuwita Ramelan secara tertulis dalam surat pernyataan sikapnya.

Bacaan Lainnya

“Mendesak agar Komisi Pengarah Situs Cagar Budaya Lapangan Merdeka dan Monumen Nasional membatalkan izin pelaksanaan balap mobil Formula E di dalam area Situs Cagar Budaya,” kata Wiwin dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (20/2).

Wiwin mengatakan IAAI memprotes keras revitalisasi dan rencana penggunaan Monas jadi ajang balap Formula E yang dilakukan tanpa melalui prosedur yang mempertimbangkan aturan.

IAAI menyatakan bahwa syarat utama untuk menggelar acara di Monas dan merevitalisasinya adalah izin dari Komisi Pengarah yang terdiri dari Menteri Sekretaris Negara, Menteri PUPR, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Perhubungan, Mendikbud, hingga Menteri Pariwisata. Ini diatur dalam Keputusan Presiden nomor 25 tahun 1995.

Selain itu dalam Undang Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dijelaskan bahwa revitalisasi memperhatikan tata ruang, tata letak, fungsi sosial dan lanskap budaya asli. Kemudian penguatan informasi tentang Cagar Budaya dan dilarang mengubah fungsi ruang situs cagar budaya nasional kecuali dengan izin Mendikbud.

“Di Pasal 86 pemanfaatan yang dapat menyebabkan terjadi kerusakan wajib didahului dengan kajian, penelitian, dan atau analisis mengenai dampak lingkungan,” kata Wiwin.

IAAI mendesak agar Pemprov DKI menghentikan proses pembongkaran kawasan Monas yang bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar.

Semua izin yang telah dikeluarkan juga diminta untuk ditarik kembali. Pemerintah DKI Jakarta saat ini telah mengantongi izin untuk merevitalisasi Monas meski sebelumnya sempat menuai polemik karena proses pembangunan dilakukan sebelum izin keluar dari Komisi Pengarah.

Sementara untuk Formula E, izin dikeluarkan untuk kawasan Taman Merdeka dengan catatan tidak merusak cagar budaya Monas. Namun sejauh ini belum dipastikan lokasi penyelenggaraan Formula E.

Dari desain awal, rencananya lintasan balap akan menggunakan sebagian kawasan dalam Monas di sekitar tugu.

Gerindra Bela Anies

Sementara Ketua DPP Gerindra DKI, M Taufik heran banyak orang mempermasalahkan pagelaran Formula E di Monas. Menurut Taufik pagelaran internasional di Monas untuk menunjukkan identitas Jakarta.

“Kan yang mau dikedepankan kan Monas. Ya Jakarta kan di Monas lah. Emang kenapa?” Kata Taufik saat dihubungi, Kamis (20/2).

Menurut Taufik tak semua kawasan Monas berstatus cagar budaya. Taufik menegaskan, tempat yang dimaksud dengan cagar budaya ialah Tugu Monas, dan tidak tempat itu tidak dijadikan untuk tempat perhelatan.

“Kan tugunya (yang jadi cagar budaya), cagar budaya apanya. Kalau kawasan semua cagar budaya, kenapa itu dibikin jalanan,” ujar dia.

Ia mencontohkan era Gubernur Sutiyoso kawasan monas dipagari dan itu tidak dipermasalahkan.

“Makanya tanya dulu, yang dimaksud cagar budaya di Monas itu di mana,” lanjut dia.

Kendati begitu, Taufik menyatakan bahwa pernyataan Megawati hanya sebatas pertanyaan dan tak perlu diperpanjang. Menurutnya perlu ada diskusi lebih lanjut agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Kalau pertanyakan kan bukan berarti menolak tapi bertanya, ya dijelaskan. Makanya, pas ada yang menolak, ditanya kenapa menolak. Ada argumennya, kasih argumen kenapa di Monas. Ada dialog,” kata Taufik.

Terakhir, Taufik menyatakan semua orang berhak untuk berkomentar terkait program Jakarta, termasuk tokoh nasional. Namun hal yang perlu ditekankan ialah harus adanya dialog untuk menjawab setiap komentar tersebut.

“Boleh aja, Jakarta tempat semua tokoh. Sebagai warga Jakarta berhak. Kan bukan menolak itu, mempertanyakan,” tutup dia. (mb/cnn indonesia)

Pos terkait