oleh

Tito soal Baku Tembak di Papua: Negara Tak Boleh Kalah

Metrobatam, Jakarta – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jendral Idham Aziz tak sungkan menambah personel Satgas di Tembagapura, Papua jika upaya persuasif (soft approach) dengan kelompok bersenjata gagal dilakukan. Kata dia, negara tidak boleh kalah dengan kelompok bersenjata.

Merujuk keterangan Mabes Polri, saat ini ada 5.000 personel gabungan TNI-Polri yang disiagakan di Papua.

“Seandainya kalau soft approach tak bisa dilakukan dan mereka melakukan pelanggaran hukum, apalagi ada yang meninggal segala macam, kita harus bertindak tegas,” kata Tito di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (10/3)

“Kita harus tegakkan hukum, siapa pun dia, tegas. Dan saya minta kepada Kapolri dan Panglima TNI, satgas yang ada bila perlu tambah, perkuat lagi. Negara enggak boleh kalah oleh kelompok-kelompok yang melakukan pelanggaran hukum apalagi memegang senjata itu,” tambahnya.

Tito tetap mengedepankan upaya persuasif terlebih dahulu. Dia meminta pemerintah daerah melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh di wilayahnya masing-masing untuk menjalin komunikasi dengan kelompok bersenjata.

Menurut Tito, langkah itu efektif meminimalisir gangguan kelompok bersenjata di Papua berdasarkan pengalamannya sebagai Kapolda Papua. Diketahui, Tito menjabat sebagai Kapolda Papua pada 2012-2014.

“Pemda juga kita minta untuk komunikasi dengan tokoh-tokoh yang disegani disana, baik tokoh agama baik tokoh adat, tokoh wanita, berbicara dengan tokoh-tokoh bersenjata itu, sehingga mereka tak melakukan aksi kekerasan. Ini tetap dilaksanakan, soft approach dilaksanakan,” kata Tito.

Selain itu, Tito menyatakan 1.572 pengungsi dari Tembagapura sudah difasilitasi pelbagai kebutuhannya oleh Pemda Timika. TNI dan Polri terus membantu dan memperkuat keamanan di wilayah tersebut.

Baku tembak antara TNI-Polri dengan kelompok bersenjata di Tembagapura, Papua terjadi sejak beberapa hari terakhir. Sedikitnya ada 1.572 warga setempat yang mengungsi.

Warga memilih untuk mengungsi karena tidak merasa aman. Mereka kerap didatangi kelompok bersenjata yang mengambil bahan pokok dan barang lainnya secara paksa.

“Kami di kampung sudah tidak aman, jadi kami kasih tinggal kampung untuk keselamatan nyawa kami. Selain itu bahan makanan kami juga sudah tidak ada, sehingga kami akan ke Timika untuk tinggal di rumah keluarga,” ujar Septinus, warga Kimbeli, Minggu (8/1).

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob mengatakan warga diungsikan ke daerah Timika. Sementara itu, pelayanan pendidikan, kesehatan dan lainnya lumpuh total. (mb/cnn indonesia)

News Feed