oleh

64 Kasus DBD Tersebar di 10 Wilayah di Agam

-Agam, Sumbar-1.171 views

Metrobatam.com, Agam – Kasus demam berdarah  (DBD) masih terbilang tinggi di Kabupaten Agam. Dinas Kesehatan setempat mencatat temuan 64 kasus periode Januari-Juni 2020. Kendati mencapai dua digit angka, namun jumlah ini diklaim menurun dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Agam, Tri Pipo menyebut, periode Januari hingga Juni 2019 lalu tercatat 91 penderita penyakit yang disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut di Agam.

”Sekarang jumlahnya menurun dengan catatan terakhir 64 kasus. Kasus saat ini berdasarkan laporan dari tiap puskesmas terbanyak ditemukan di pasar tradisional, karena kurangnya perhatian kebersihan dari para pedagang,” kata Tri Pipo, Rabu (8/7).

Penyebarannya, lanjut Tri Pipo, mencakup wilayah kerja 10 puskesmas dari 23 puskesmas di Kabupaten Agam. Untuk 13 puskesmas sisanya masih nihil kasus sejauh ini. Tingkat kerawanan DBD paling tinggi, terdapat pada wilayah kerja Puskesmas Tiku dengan catatan 14 kasus.

Kemudian, Puskesmas Padanglua sebanyak 13 kasus, Puskesmas Biaro 11 kasus, Puskesmas Lasi 8 kasus, Puskesmas Baso 6 kasus, Puskesmas Kotoalam 4 kasus, Puskesmas Sungaipua 3 kasus, Puskesmas Matur 2 kasus, Puskesmas Pakankamih 2 kasus dan Puskesmas Pasar Ahad 1 kasus.

”Kabar baiknya, alhamdulillah tidak ada korban jiwa pasien DBD di Agam. Kami mengimbau warga agar lebih waspada terhadap wabah penyakit DBD ini,” sebut Tri Pipo didampingi Kasi Surveylans, Imunisasi dan Bencana, Dinas Kesehatan Agam, Lasri Hermaiti.

Demi menekan korban DBD tahun ini, pihaknya bakal lebih gencar dan intens ke lapangan melakukan pemeriksaan lingkungan dengan target pemusnahan jentik. Pihaknya mengerahkan 100 petugas pemeriksa jentik nyamuk Aedes aegypti di rumah warga apabila ada laporan DBD.

”Satu petugas akan memeriksa 10 rumah setiap hari selama satu minggu. Pemeriksaan jentik nyamuk juga dilakukan di sekolah, sarana ibadah dan kantor pemerintahan,” paparnya.

Menurutnya, untuk dapat terhindar dari ancaman penyakit DBD masyarakat mesti bersama menjaga kebersihan lingkungan. Kemudian, menggalakkan perilaku 3M plus untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

”Masyarakat harus lebih mengutamakan kebersihan lingkungan dan jangan lupa menerapkan 3M plus. Yaitu, menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi jadi tempat berkembang biaknya nyamuk DBD,” ujarnya.

Plusnya lanjut dia, bisa dengan menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Di rumah memakai obat anti nyamuk, memakai kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk dan lainnya. ”Kesadaran masyarakat kunci utama dari kasus ini. Terlebih di lingkungan keluarga,” tutupnya. (Basa)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed