Muncul Kasus Covid-19, Kapal Pesiar di Singapura Kembali Lebih Awal

Batam (Metrobatam.com) – Kapal pesiar milik perusahaan Royal Caribbean kembali berlabuh di Singapura pada hari ketiga dari empat hari yang dijadwalkan dalam “pelayaran tak kemana-mana” setelah seorang penumpang dinyatakan positif Covid-19.

Layanan “pelayaran tak kemana-mana”, yakni berlayar dan kembali berlabuh di pelabuhan yang sama tanpa singgah di tempat lain, diluncurkan Singapura bulan lalu. Perjalanan kapal pesiar khusus diperuntukkan bagi warga negara itu saja.

Bacaan Lainnya

Layanan itu dibuka sebagai upaya untuk menghidupkan kembali industri kapal pesiar di Singapura yang lumpuh akibat pandemi Covid-19. Secara global, industri tersebut juga lumpuh sesudah banyak kapal pesiar menjadi pusat penularan di awal masa pandemi.

Kapal pesiar milik perusahaan Royal Caribbean yang diberi nama Quantum of the Seas berlayar dari Singapura pada Senin (07/12) dalam pelayaran selama empat hari, pergi pulang.

Pelayaran ini adalah bagian dari skema “pelayaran aman” yang diumumkan oleh Badan Pariwisata Singapura pada Oktober lalu.

Perusahaan pelayaran mengatakan kapal tersebut diperintahkan untuk kembali ke pelabuhan setelah seorang penumpang dinyatakan positif virus corona sesuai dengan hasil tes yang dilakukan oleh tim medis di atas kapal.

“Kami mengidentifikasi dan mengisolasi semua penumpang dan kru yang berhubungan dekat dengan penumpang tersebut, dan semua dari mereka dinyatakan negatif.” Demikian pernyataan Royal Carribean.

Ditambahkan oleh perusahaan bahwa semua penumpang diizinkan turun dari kapal “setelah pemeriksaan pelacakan kontak selesai”.

Terdapat 1.680 penumpang dan 1.448 kru di kapal itu, lapor surat kabat setempat, The Straits Times.

Dilaporkan penumpang yang dinyatakan positif Covid-19 adalah seorang warga negara Singapura berusia 83 tahun. Ia memeriksakan diri ke klinik kesehatan di kapal setelah mengalami diare dan kemudian menjalani pemeriksaan virus corona sebagai bagian dari protokol kesehatan di kapal.

Berbagai aspek keselamatan diterapkan kepada penumpang dalam pelayaran khusus ini, termasuk tes Covid-19 sebelum masuk ke kapal dan sesudah keluar dari kapal.

Selain itu, kapasitas kapal dibatasi maksimal 50?ri kapasitas normal untuk memungkinkan penerapan jaga jarak sosial.

“Fakta bahwa kami mampu dengan cepat mengindentifikasi kasus tunggal ini dan mengambil tindakan cepat menunjukkan bahwa sistem ini berjalan baik sesuai dengan yang diharapkan,” kata Royal Caribbean dalam keterangannya.

Industri kapal pesiar sangat terdampak di awal pandemi, ketika virus menyebar di kapal pesiar Diamond Princess di Jepang dan kemudian di Grand Princess di Amerika Serikat. Para penumpang terpaksa dikarantina di tengah laut sesudah ratusan orang terinfeksi.

Warga Singapura tak sabar menunggu untuk keluar dari pulau kecil itu. Selama berbulan-bulan, perbatasan negara ditutup dan kerinduan akan perjalanan diwujudkan dalam bentuk-bentuk aneh seperti menikmati hidangan makanan di pesawat terbang yang diparkir di tarmak atau memesan penginapan di bandara.

Pelaksanaan perjalanan melalui mekanisme travel bubble dengan Hong Kong yang dinanti-nantikan ditunda karena peningkatan kasus di sana.

Oleh karena itu “pelayaran tak kemana-mana” menjadi opsi perjalanan nyata pertama selama berbulan-bulan, dan perjalanan gelombang pertama, laku terjual dalam waktu singkat.

Sekembali dari pelayaran itu, penumpang dipenuhi rasa antusias dan menyampaikan pujian, baik terkait dengan pengalaman berpesiar maupun terkait dengan protokol keselamatan.

Bagaimanapun juga, di awal pandemi, kapal pesiar menjadi tempat subur bagi virus corona, kadang-kadang terdampar selama berminggu-minggu di tengah laut dan para penumpangnya tidak diizinkan turun dari kapal.

Tetapi Singapura hanya mencatat sedikit kasus dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan dan warga menaruh kepercayaan tinggi terhadap pelacakan kontak ketat yang dilakukan pihak berwenang.

Kasus Covid di kapal Quantum of the Seas ini akan menguji kepercayaan masyarakat sementara kalangan operator kapal pesiar kembali menghadapi masa depan yang sangat tidak pasti.

(bbc)

Pos terkait