Dampak Pelebaran Jalan, Pemko Batam Minta Warga Bongkar Bangunan Sendiri

(Ilustrasi ) Pelebaran jalan di nagoya batam pada tahun 2016

Metrobatam.com, Batam – Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, meminta warga yang terkena dampak pelebaran jalan untuk membongkar sendiri bangunannya sebelum waktu pengerjaan infrastruktur.

“Yang terkena pelebaran, agar dibuka sendiri, supaya April bisa jalan,” kata Wali Kota Batam Muhammad Rudi dalam sosialisasi pelebaran jalan di Batam, Jumat.

Bacaan Lainnya

Pemerintah, kata dia, tidak berniat menyakiti warga dengan membongkar dan menggusur bangunan yang terkena dampak pelebaran jalan.

Karena itu sebelum pengerjaan pembangunan dimulai, warga diharapkan telah membongkar sendiri bangunannya sesuai dengan batasan lahan yang sudah direncanakan untuk pembangunan jalan.

“Saya tidak berniat menyakiti karena kalau tidak saya lakukan (pelebaran jalan), Batam tidak akan berubah,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, ia meminta maaf karena Pemkot tidak dapat memberikan uang ganti rugi kepada warga yang terkena dampak.

Wali Kota juga meminta pengertian warga yang memiliki tempat usaha di lahan itu karena tidak bisa mengalokasikan lokasi berusaha, mengingat Pemkot tidak memiliki lahan sendiri.

“Mohon izin, saya tidak punya lahan untuk posisi pindah ke mana. Kami sudah minta Pasar Induk (dari BP Kawasan Batam) sampai sekarang tidak dapat,” kata dia.

Bila BP Kawasan sudah menghibahkan Pasar Induk Jodoh kepada Pemkot Batam, maka seluruh pedagang bisa dialokasikan ke pasar itu.

Di tempat yang sama, Ketua DPRD Kota Batam Nuryanto meminta masyarakat untuk memahami dan mendukung rencana pemerintah dalam membangun.

Ia mengatakan sudah saatnya Batam berubah menjadi kota yang berwibawa.

“Batam daerah perbatasan dengan negara lain. Maka acuannya harus ke luar. Untuk mencapai itu tidak bisa jalan sendiri tanpa dukungan masyarakat,” kata dia.

Sementara itu, warga yang mengikuti sosialisasi relatif tidak menolak penggusuran demi pelebaran jalan.

Warga Pelita, Sulistiawan mempertanyakan solusi pemerintah, karena akibat penggunaan lahan untuk jalan, rumahnya berada di ketinggian yang tingkat elevansinya tidak memungkinkan kendaraan untuk naik.

Mb/Antara

Pos terkait