Polri Tangkap 4 Sindikat Narkoba Internasional, 41 Kg Sabu Disita, 1 Ditembak Mati

Metrobatam, Medan – Tim NIC dari Direktorat Narkoba Bareskrim Mabes Polri melakukan pengungkapan terhadap jaringan narkoba internasional Malaysia-Aceh-Medan. Dalam pengungkapan itu, sebanyak 41 kilogram narkoba yang terdiri dari 34 bungkus narkoba jenis sabu-sabu dan tujuh bungkus narkoba jenis ekstasi berhasil disita petugas.

Selain barang bukti narkoba yang jumlahnya cukup besar itu, petugas juga berhasil menangkap empat orang tersangka anggota sindikat tersebut. Satu di antara mereka ditembak mati petugas.

Read More

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting mengatakan, pengungkapan atas sindikat itu merupakan pengembangan atas penangkapan sindikat Mursal alias Aldo Saputra alias Evar dan tiga tersangka lainnya dengan barang bukti 6 Kg sabu dan 3.000 butir ektasi di Kota Binjai, beberapa waktu lalu.

“Iya, ini hasil pengembangan penangkapan sebelumnya. Penangkapan dilakukan di empat tempat di Sumatera Utara dan Aceh. Dalam penangkapan tersebut empat orang berhasil diamankan. Di mana satu di antaranya terpaksa diberikan tindakan tegas karena melawan saat akan ditangkap,” tegas Kombes Rina usai memaparkan kasus tersebut di depan instalasi jenazah RS Bhayangkara Medan, Senin (6/3).

Rina menjelaskan, dalam mengedarkan barang haram itu, para pelaku menerima narkoba dari Malaysia melalui aliran Sungai Iyu di dekat perkebunan kelapa sawit di daerah Cinta Raja, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

“Narkoba itu kemudian dibawa ke lokasi tempat pembuatan arang yang tak jauh dari tepi Sungai Iyu. Narkoba-narkoba itu sempat ditanam di tanah sambil menunggu pengirimannya ke Medan,” jelas Rina.

Abdurahman Ditembak Mati
Empat pelaku berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka adalah Amsari alias Sari (32), Edi Saputra alias Alfarissi alias Datok alias Iyong (38), Zainuddin (46), dan Abdurahman alias Naga (50). Dari empat orang ini, yang berperan sebagai pengendali jarangan adalah Edi. “Sementara tiga orang tersangka lainnya membantu,” terang Rina.

Dia merinci, tersangka Amsari dan Zainuddin berperan sebagai penjemput narkotika dari jaringan Malaysia. Dia lalu menyimpan barang haram itu di tanah sebelum diantar ke penerima di Medan.

“Sementara Abdurahman berperan sebagai koordinator penjemputan barang di kapal dan koordinator kurir yang antar ke konsumen di Medan,” jelasnya.

Rina lebih lanjut memaparkan, keempat tersangka ditangkap di sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh. Amsari ditangkap pertama kali pada Jumat 3 Maret 2017 petang, di depan Gereja GBKP Bena Meriah, Jalan Flamboyan Raya, Tanjung Selamat, Kota Medan.

Selanjutnya pada malam di hari yang sama, dilakukan penangkapan terhadap tersangka Edi Saputra di Kampung Nenas, Jalan Gotong Royong, Pasar Gambir, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara.

Penangkapan ketiga dilakukan keesokan harinya terhadap Zainuddin di Dusun Margo Utomo, Desa Cinta Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Sedangkan Abudurahman ditangkap dan di Jalan Sungai Iyu, Kec. Bendahara, Aceh Tamiang.

“Tersangka Abdurahman terpaksa kami tembak hingga meninggal dunia,” jelas Kombes Rina.

Rina menjelaskan, Abdurahman merupakan residivis. Namanya masuk dalam DPO setelah kabur saat polisi menangkap anggota sindikat narkoba bernama Mursal alias Aldo Saputra di Kota Binjai pada Senin 16 Januari 2016 pagi.

Saat itu Abdurahman berhasil melarikan diri dengan cara menabrak mobil petugas, setelah menyerahkan 5 kilogram sabu-sabu kepada tersangka Sayuti Noor (tertangkap) dan Basyir Deviansyah (tertangkap).

“Jenazah korban saat ini berada di instalasi jenazah RS Bhayangkara Medan untuk keperluan penyidikan,” tutup Kombes Rina.(mb/okezone)

Related posts