Syafii Maarif: Saya Sedih, Energi Bangsa Habis di Pilkada DKI

  1. Metrobatam, Jakarta – Ahmad Syafii Maarif, atau yang biasa disapa Buya Syafii, menyoroti kondisi Jakarta yang akhir-akhir ini menjadi panas karena pemilihan kepala daerah. Buya Syafii meminta agar energi bangsa tidak hanya dihabiskan untuk kepentingan sesaat.

“Yang saya kadang-kadang sedih itu ya, ini Pilkada DKI ini menghabiskan energi bangsa, untuk apa sih?” ujar Buya Syafii di gedung serbaguna Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (30/3).

Buya Syafii pun meminta masyarakat tak melulu mengurusi Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang terjerat kasus dugaan penistaan agama. Masyarakat hanya akan terpecah jika terus-menerus mengurusi perkara Ahok.

Bacaan Lainnya

“Ahok diperkatakan, dipergunjingkan, dihujat, dihukum, habis energi kita. Pakai agama lagi, penista agama, dan orang yang mengatakan tidak ada penistaan, dihujat habis-habisan. Energi kita terbuang sia-sia untuk sesuatu yang menurut saya bukan masalah yang mendasar,” tutur Buya.

Energi bangsa ini, menurut Buya Syafii, menjadi tak berarti jika dikorbankan hanya untuk Jakarta. Dia pun menyinggung media sosial masyarakat yang saat ini hanya berisi ujaran kebencian.

“Jangan dikorbankanlah bangsa untuk DKI ini. Nggak perlu lagi kita saling menyalahkan. Bahkan sekarang di medsos, sudah kafir-mengkafirkan. Mayat, nggak ngurus mayat, itu ngapain?” sebutnya.

Terakhir, Buya berkata dirinya berbicara soal ini bukan karena dia pendukung Ahok. “Saya bukan pendukung Ahok. Saya lihat video 13 detik, saya tak bisa menyimpulkan itu menista atau menghina ulama, Islam, agama,” tutup mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.

Singgung DPR
Dalam orasinya, Syafii menyinggung soal DPR yang dicap sebagai lembaga terkorup versi sebuah lembaga survei. Syafii berpidato dalam acara ulang tahun Mizan Group ke-34, yang diselenggarakan di gedung serbaguna Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (30/3).

Pidato yang diberi tema ‘Orasi Kebangsaan oleh Ahmad Syafii Maarif’ ini disampaikan di depan tokoh-tokoh, seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, dan Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi.

Pria yang akrab disapa Buya Syafii itu awalnya berorasi soal kebangsaan sebelum menyentil DPR, yang dicap sebagai lembaga terkorup menurut persepsi warga RI.

“Kita kehilangan hati nurani, lumpuh. Dalam survei-survei, dalam penelitian-penelitian itu, lembaga paling korup justru lembaga yang ada di Senayan. Yang kedua kejaksaan. Yang ketiga kepolisian. Kepolisian agak naik sedikit, lebih baik. Saya nggak tahu itu, ya,” kata Buya Syafii yang diikuti gelak tawa hadirin.

Sebelumnya, dalam sebuah survei, DPR mendapat predikat sebagai lembaga terkorup. Predikat itu didapat DPR dari hasil survei Transparency International Indonesia (TII). Survei oleh Global Corruption Barometer (GCB) yang disusun TII itu memperlihatkan 65 persen masyarakat Indonesia menganggap level korupsi meningkat dalam 12 bulan terakhir.

Hasilnya menunjukkan sebagian besar masyarakat menempatkan DPR di peringkat pertama lembaga negara yang dianggap paling korup, diikuti birokrasi pemerintah, dan DPRD.

GCB mengukur persepsi masyarakat terhadap kinerja pemberantasan korupsi di Asia-Pasifik. Survei GCB di Indonesia meliputi 1.000 responden berusia 18-55 tahun yang tersebar di 31 provinsi dengan metode wawancara langsung maupun melalui telepon mulai 26 April sampai 27 Juni 2016.(mb/detik)

Pos terkait