oleh

Analisis: Mas Agus dan Ambisi Politik Cikeas

Metrobatam, Jakarta – Apalagi yang dimiliki Partai Demokrat selain Susilo Bambang Yudhoyono?

Pergantian kekuasaan dari Presiden ke-6 SBY menuju Presiden Joko Widodo saat ini, tak juga menjadi angin segar bagi partai berlambang bintang merci, Demokrat.

Deretan petinggi dan politikus muda ‘dibabat habis’ menjelang perpindahan kekuasaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Andi Malarangeng, Anas Urbaningrumm, Angelina Sondakh, M Nazaruddin, Jero Wacik, hingga mendiang Soetan Batoeghana.

Tak hanya itu, dua pemikir partai yang paham betul berorganisasi, Saan Mustopa, beralih ke Partai NasDem, sedangkan Gede Pasek Suardika berlabuh ke Hanura.

Ketiadaan orang-orang berpengalaman dalam berorganisasi, membuat Demokrat labil, yang juga tampak dalam menentukan posisi oposisi atau koalisi di pemerintahan. Hingga saat ini, Demokrat berkeras berada di jalur tengah, untuk tidak bisa memihak, koalisi-oposisi.

Tidak ada posisi netral dalam demokrasi, perlu ada garis tegas: apakah mendukung atau mengkritisi pemerintah. Kondisi tersebut membuat partai ini seakan bijaksana, alih-alih pragmatis dalam berpolitik.

Selepas kepengurusan Anas kandas digasak KPK, trah Cikeas meraja. Hanya ada SBY, Ani Yudhoyono, dan Edhie Baskoro.

Demokrat praktis kehabisan anggota muda, kader matang yang sedari awal partai berdiri.

Melihat kondisi saat ini, paling logis dan realistis bagi Demokrat adalah memainkan Agus Harmurti Yudhoyono yang terkapar di Pilkada Jakarta 2017.

Meski kalah, pesta demokrasi Jakarta adalah ajang pengenalan sosok Agus yang mau tidak mau, suka tidak suka, dikenal publik secara nasional.

Raupan 17 persen suara di Pilkada DKI putaran pertama adalah angka yang lumayan untuk seseorang yang nol pengalaman di dunia politik seperti Agus.

Ketiadaan penerus nakhoda partai, membuat cek ombak bagi seorang Agus mampu membuatnya mendapat label ‘tokoh politik nasional’. Agus pun dibawa-bawa sang ayah berkeliling nusantara, mengenalkan diri lebih dekat, sekaligus mendekatkan diri menuju aklamasi untuk kongres partai tahun 2020.

Paling anyar, Agus ikut berkeliling di Kepulauan Riau pekan ini.

“Kontes Pilkada Jakarta membuat Agus dikenal. Ini cara cepat dan efektif. Siapa lagi yang Demokrat punya?” kata pengamat politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/4).

Tapi ini jadi benturan keras bagi Demokrat yang seharusnya bercermin diri atas kehilangan kader-kader mereka. Ada apa dengan partai ini, apakah ini Demokrat atau ‘Partai Cikeas’?

Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Demokrat Imelda Sari, kepada CNNIndonesia, enggan membenarkan jika kemungkinan Agus menjadi pimpinan partai karena faktor darah SBY yang mengalir.

“Mas Agus secara darah bapaknya ketum, Ibu Ani pernah menjadi wakil ketum juga sekarang Mas Ibas Ketua Fraksi, dan saat Pikada Jakarta diusung Demokrat. Jadi secara kedekatan amat dekat. Saat ke Kepri pun sambutan masyarakat sangat antusias, itu artinya Agus sangat dinantikan,” kata Imelda.

“Tentu buat Demokrat, faktor Mas Agus buat kami bagus ke depan. Kapan itu? Kita lihat nanti,” ucapnya.

Sejauh apa Agus mampu? Memang waktu yang akan menjawab. Namun dengan usia Agus di panggung politik yang baru seumur jagung, langkah SBY mengkader Agus sangatlah wajar. Setidaknya hingga dia berada di posisi Demokrat 1.

Apa target selanjutnya? Presiden? Terlalu berat bagi Agus menanggung ambisi politik Cikeas. (mb/cnn indonesia)

News Feed