oleh

Keren! Kapal Nelayan Di Yogya Bakal Dilengkapi Alat Deteksi Ikan Berbasis Satelit

Metrobatam, Yogyakarta – Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) DIY, bekerjasama dengan LAPAN Bandung dalam rangka meningkatkan kemampuan nelayan untuk beralih teknologi. Ke depan kapal nelayan DIY akan dipasang alat deteksi ikan dengan berbasis citra satelit.

Kepala Dislautkan DIY, Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, untuk mendorong terjadinya alihteknologi nelayan dari manual menuju digital, pihaknya bekerjasama dengan Lapan Bandung. Salah satunya dengan mempersiapkan alat pendeteksi ikan di laut, sehingga nelayan dapat menentukan dan memantau letak perairan yang ada banyak potensi ikan. Kerjasama itu telah berlangsung sejak 2016 silam dan tahun ini mulai dilakukan pelatihan terhadap nelayan untuk menggunakan alat tersebut.

“Alat itu memudahkan, misal sekarang di sana ada ikan Tuna. Nelayan tidak perlu susah kemana-mana, langsung menuju ke tempat tersebut. Selain itu untuk manajemen risiko, dengan alat itu tahu bahwa gelombangnya besar, jangan ke sana,” terangnya, dikutip dari Harian Jogja, Selasa (4/4).

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dislautkan DIY, Suwarman Partosuwiryo menambahkan, aplikasi itu berbasis citra satelit. Piranti utama alat pendeteksi itu adalah fish finder atau echo sounder serta global positioning system (GPS). Receiver untuk pendeteksi bisa dipasang di atas kapal. Dengan alat tersebut nelayan dapat membawanya melaut sembari memantau keberadaan ikan.

Jika alat sudah dihidupkan maka dapat memantau titik koordinat, gerombolan ikan posisi ikan, arah berenangnya ikan, kedalaman laut hingga arah gelombang. Suhu permukaan laut dan kecerahan air laut juga dapat muncul di alat tersebut. Dengan mengolah data dari alat deteksi itu, maka nelayan dengan mudah menentukan lokasi penangkapan ikan.

“Alat ini sudah canggih tetapi berbasis citra satelit, kalau tidak pakai ketiganya (fish finder, echo sounder, GPS) tidak bisa mengakses,” tukas dia.

Ombak Capai 6 Meter
Cuaca buruk kembali membuat nelayan di kawasan Pantai Glagah tidak dapat melaut selama sepekan terakhir. Tinggi gelombang diketahui mencapai lebih dari enam meter sehingga tidak bersahabat untuk operasional perahu motor tempel yang digunakan nelayan.

Seorang nelayan bernama Marto Utomo mengaku, sudah tidak melaut sejak awal pekan kemarin. “Ombaknya lagi besar. Kemarin Sabtu-Minggu itu saja ada informasi kalau tingginya sampai 6,4 meter,” kata Marto saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangwuni, Wates, Kulonprogo, DIY, seperti dilansir dari Harian Jogja, Selasa (4/4).

Marto mengungkapkan, pagi itu dirinya mendapatkan informasi jika kondisi cuaca sudah membaik. Ketinggian gelombang berangsur menurun dan menjadi kurang dari empat meter. Dia lalu berencana melaut lagi pada Selasa hari ini. Ia berusaha mempersiapkan perahu yang sudah lama hanya dilabuhkan di Sungai Serang, tepatnya bawah Jembatan Glagah.

Nelayan lainnya, Karno juga mengaku, sudah sepekan libur melaut. Menurutnya, ada sekitar 14 nelayan yang melabuhkan perahunya di dekat TPI Karangwuni. Kebanyakan dari mereka adalah nelayan asal Cilacap, Jawa Tengah.

Saat tidak bisa melaut seperti beberapa hari terakhir, sebagian dari mereka memilih pulang kampung. Jika tidak, mereka akan mengisi waktu dengan mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk kembali melaut, seperti merawat jaring dan sebagainya.

Beberapa nelayan sebenarnya sudah melaut lagi pada Senin ini. Mereka berani berangkat karena kondisi cuaca dikabarkan sudah membaik. Namun, Karno memilih untuk melakukan mulai Selasa nanti karena hari itu dia masih sibuk mempersiapkan perahu dan segala perbekalan lain. “Ini ikannya lagi sepi. Kalau berangkat, paling cari keong,” ujar Karno.(mb/okezone)

News Feed