Inggris: Bom Bunuh Diri di Konser Ariana Grande Renggut 22 Nyawa

Manchester – Korban jiwa akibat ledakan usai konser penyanyi terkenal AS, Ariana Grande di Manchester, Inggris telah bertambah. Kepolisian Inggris menyatakan sebanyak 22 orang tewas dalam peristiwa itu, termasuk beberapa anak-anak.

Kepolisian Inggris pun menyatakan bahwa ledakan di luar gedung Manchester Arena pada Senin (22/5) malam waktu setempat tersebut merupakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pria.

Bacaan Lainnya

“Kami yakin, pada tahap ini, serangan semalam dilakukan oleh seorang pria,” ujar Kepala Polisi Manchester Ian Hopkins seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (23/5).

“Prioritasnya adalah mengetahui apakah dia bertindak seorang diri atau sebagai bagian dari sebuah jaringan,” imbuhnya.

Dikatakannya, pelaku membawa bahan peledak yang diledakkannya di lokasi. Pelaku pun dipastikan tewas. “Si penyerang, saya bisa konfirmasi, tewas di arena tersebut,” tandasnya.

Sebelumnya, beberapa pejabat senior AS mengungkapkan kepada NBC News soal bukti forensik di lokasi kejadian yang menguatkan keterlibatan pengebom bunuh diri dalam insiden mengejutkan ini.

“Termasuk sesosok mayat yang ditemukan di lokasi ledakan, mengindikasi ini serangan bom bunuh diri,” ujar pejabat senior AS yang enggan disebut namany kepada NBC News.

Baik pejabat penegak hukum Inggris maupun AS untuk saat ini meyakini, bahwa mereka telah mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri. Namun identitasnya belum dirilis ke publik.

Selain menewaskan 22 orang, sekitar 50 orang lainnya luka-luka akibat ledakan ini. Laporan awal menyebut beberapa korban tewas terinjak-injak saat kepanikan terjadi sesaat usai ledakan. Ledakan itu terjadi sesaat setelah Ariana Grande menyelesaikan konser dan meninggalkan panggung. Titik ledakan dilaporkan ada di lorong pintu keluar Manchester Arena, bukan di dalam arena konser.

ISIS Puji Serangan Konser Ariana

Pendukung ISIS dilaporkan memuji insiden ledakan diduga bom bunuh diri di konser Ariana Grande pada Senin (22/5) di Manchester Arena, Inggris, melalui media sosial mereka.

Akun Twitter yang diyakini berafiliasi dengan ISIS berkicau soal perayaan atas insiden Senin malam itu. Beberapa pesan menggambarkan serangan tersebut sebagai aksi balas dendam atas serangan Barat di Irak dan Suriah.

Sejumlah pendukung ISIS lainnya bahkan mendorong serangan serupa untuk diluncurkan di tempat lainnya.

“Tampaknya bom pasukan udara Inggris yang menyerang anak-anak di Mosul dan Raqqa baru saja berbalik ke #Manchester,” ucap salah satu pengguna Twitter bernama Abdul Haqq yang merujuk pada operasi militer koalisi Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat termasuk Inggris di Suriah dan Irak.

Sementara itu, salah satu pendukung ISIS juga mengunggah pesan berisikan ajakan untuk melakukan serangan lone wolf–serangan teror yang dilakukan sendirian–di negara Barat. Bahkan, dia juga berbagi video ISIS yang berisikan ancaman terhadap Negeri Paman Sam dan Eropa.

Salah satu pengguna bahkan berharap serangan di Manchester itu didalangi oleh ISIS. Meskipun begitu, kelompok teroris pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu belum secara formal mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa yang menelan sedikitnya 19 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka tersebut.

“Kami berharap pelaku serangan adalah salah satu anggota dari khilafah ISIS,” tulisnya melalui jejaring pesan Telegram, seperti dikutip Reuters, Selasa (23/5).

Sementara yang lainnya memasang spanduk bertuliskan, “Serangan [teror] ini berawal di Brussels dan Paris. Di London kami membentuk sebuah negara,” mengacu pada serangan teror sebelumnya yang telah diklaim oleh ISIS.

Kepolisian Inggris menangani peristiwa Senin malam ini sebagai “insiden teroris”. Perdana Menteri Theresa May mengecam serangan tersebut dan segera menggelar pertemuan darurat membahas insiden itu.

Pejabat penegak hukum asal AS yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, seorang pria di lokasi kejadian telah diidentifikasi sebagai terduga pelaku bom bunuh diri.

Meski begitu, aparat berwenang belum menjelaskan secara detail penyelidikan awal mereka terkait terduga pelaku serangan.

Jika peristiwa tersebut benar dikonfirmasi sebagai aksi teroris, ini akan menjadi serangan militan paling mematikan di Inggris sejak bom bunuh diri mengguncang sistem transportasi di London pada Juli 2005 silam yang menewaskan sekitar 52 orang.(mb/detik/cnn indonesia)

Pos terkait