BNPB Imbau Masyarakat Tak Dekati Zona Bahaya Gunung Agung

Metrobatam, Karangasem – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, pihaknya mengimbau warga Bali tidak mendekati zona bahaya di Gunung Agung.

Dari video kawah Gunung Agung, memang kondisinya sudah ada rekahan dan asap keluar dari kawah hingga ketinggian 50-100 meter dengan tekanan rendah.

Bacaan Lainnya

“Meski sudah dilarang untuk melakukan segala aktivitas di radius berbahaya, masih ada sebagian masyarakat yang melanggar larangan tersebut. Memang berbahaya jika tiba-tiba terjadi letusan. Berbahaya bagi orang tersebut maupun bagi tim SAR jika terjadi letusan dan diketahui ada yang menjadi korban,” ujarnya, Rabu (4/10).

Sekadar diketahui, saat ini banyak beredar info soal warga Karangasem naik ke puncak Gunung Agung dan menggungahnya ke media sosial.

Sutopo menyatakan, sebagian masyarakat yang nekat ke kawah Gunung Agung menggunakan logika spiritual. Juga ingin mendoakan agar gunung tidak meletus.

“Di Bali sudah tercipta kompromi. Tri hita karana yaitu komunikasi antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan alam (gunung), dan antar manusia dengan manusia. Ini juga terjadi di tempat lain,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pada 2007 saat Gunung Kelud status Awas, tokoh masyarakat nekat masuk ke radius berbahaya dan membawa sesaji melakukan spiritual dengan maksud berkompromi dengan arwah Lembu Suro yang diyakini bersemayam di dalam kawah Gunung Kelud.

“Saat itu Gunung Kelud tidak jadi meletus. Hanya terbentuk kubah lava. Nah itulah, menangani bencana akibat letusan gunung api bukan hanya sebatas teknis saja. Tetapi, ada hal-hal lain yang menyangkut sosial budaya, kepercayaan, dan lainnya di masyarakat,” terangnya.

“Kita tetap minta agar tidak ada pihak-pihak yang memasuki zona berbahaya di Gunung Agung,” ujarnya.

Menurutnya, mengambil gambar dan video lalu disebarluaskan ke medsos yang akhirnya menciptakan kebingungan masyarakat.

“Seolah-olah masyarakat dibenturkan logikanya antara pemerintah yang menggunakan metodologi ilmiah yang sudah diakui kebenarannya, dengan pengamatan visual dari pihak yang nekat ke kawah. Padahal mereka tidak tahu bagaimana kondisi di dalam gunung itu,” tutupnya. (mb/okezone)

Pos terkait