Selain di Tangerang, Densus 88 Tangkap 9 Teroris di Empat Provinsi Berbeda

Metrobatam, Jakarta – Di Tangerang, petugas gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan polisi menggerebek sebuah rumah milik terduga teroris berinisial KN. Di hari yang sama, Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri juga menangkap sembilan orang terkait terorisme di empat provinsi berbeda.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Rikwanto memaparkan, empat provinsi yang dimaksud adalah Sulawesi Selatan, Riau, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Di Sulawesi Selatan, polisi mengamankan seorang pria berusia 42 tahun bernama Bakri alias Bakri Baroncong alias Aslam alias Pak Nur. Bakri disebut-sebut terlibat dalam kasus pelemparan bom yang nyaris menewaskan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo pada 2012 silam.

“Dia ikut serta dalam kejadian Bom Gubernur Sulawesi Selatan tahun 2012, sesuai dengan BAP (berita acara pemeriksaan) beberapa tersangka,” tuturnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (24/10).

Rikwanto melanjutkan, di Riau, Densus 88 meringkus lima orang pelaku teroris, yakni Yoyok Handoko alias Abu Zaid (42), Wawan alias Abu Afif (42), Beni Samsu Trisno alias Abu (31), Handoko alias Abu Buchori dan Nanang Kurniawan alias Abu Aisha.

“Mereka punya peran yang berbeda-beda. Tapi sasaran dari rencana aksi mereka adalah kantor polisi di Pekanbaru,” katanya.

Menurut Rikwanto, untuk wilayah Jawa Tengah, jajaran kepolisian menciduk dua orang tersangka teroris, yakni Muhammad Khoirudin dan Hasby. Keduanya, dikatakan Rikwanto terlibat sebagai penyandang dana kelompok Hendro Fernando yang terkait dengan kasus terorisme di Poso selama 2015 hingga 2016.

“Keterlibatan mereka adalah penyandang dana kelompok Hendro Fernando yang terkait dengan Poso pada periode 2015 – 2016,” jelasnya.

Sedang di Jawa Timur, Rikwanto menuturkan, polisi mengamankan Hendrasti Wijanarko alias Koko alias Jarwoko alias Lir Lir sebagai satu-satunya tangkapan.

“Pelaku berencana lakukan bom bunuh diri di Istana Negara melalui media sosial. Mereka membuat grup telegram /medsos tersendiri yang bernama “Kulak Tahu”, yang didalamnya juga terdapat Bahrun Naim, dan Hendrasti Wijanarko,” pungkasnya.

Saat ini pihak kepolisian tengah melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap para pelaku untuk mencari keterlibatan adanya pelaku lain dalam jaringan teroris tersebut. (mb/okezone)

Pos terkait