Bandara I Gusti Ngurah Rai Ditutup, Warga Diminta Mengungsi

Metrobatam, Denpasar – Erupsi Gunung Agung yang belum juga berhenti menyebabkan sebaran abu meluas. Bandara I Gusti Ngurah Rai ditutup pada pukul 07.00 WITa.

“Bandara ditutup pada pukul 07.00 WITa sampai 24 jam ke depan,” kata Kepala Humas Bandara Ngurah Rai Angkasa Pura I, Arie Ahsannurohim, kepada detikcom, Senin (27/11).

Bacaan Lainnya

Penutupan ini dilakukan melalui Notice to Airmen (Notam) yang dikeluarkan pukul 07.15 WITa. Abu vulkanik diketahui telah menutup wilayah udara Bandara Ngurah Rai.

“Debu vulkanik telah menutup air space di bandara hingga dua level. Visual memang debu vulkanik sangat tipis partikelnya di bandara hingga pukul 05.30 WITa, tapi ruang udara sudah tertutup debu vulkanik,” ujar Arie.

Sementara itu warga diminta mengungsi dari radius 8 hingga 10 kilometer. “Status Gunung Agung dinaikkan dari Siaga (level 3) menjadi Awas (level 4) terhitung mulai 27/11 pukul 06:00 WITA. PVMBG merekomendasikan agar tidak ada aktivitas masyarakat di dalam radius 8-10 km,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam akun twitternya @Sutopo_BNPB, Senin (27/11).

Sutopo meminta masyarakat untuk tetap tertib dan tenang. “Masyarakat diimbau mengungsi dengan tertib dan tenang,” katanya.

Sebelumnya Sutopo mengatakan status Gunung Agung dinaikkan dari Siaga menjadi Awas. Dinaikkannya status tersebut terhitung sejak pukul 06.00 Wita, pagi ini. “Status awas adalah status tertinggi dalam status gunung api,” kata Sutopo dalam rilisnya.

Sutopo menerangkan semakin sering sinar api terlihat di puncak gunung, maka gunung itu akan semakin berpotensi meletus lebih besar dari sebelum-sebelumnya. “Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi,” ujar Sutopo.

Ledakan di puncak gunung kadang terdengar hingga radius 12 kilometer. “Kepulan abu yang menerus, kadang-kadang disertai erupsi eksplosif disertai suara dentuman lemah yang terdengar sampai jarak 12 km dari puncak,” terang Sutoopo.

Sutopo menjelaskan saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Polri-TNI, Basarnas, Kemenpupera, Kemensos, Kemenkes, Kemenhub, BUMN untuk medampingi Pemda dalam penanganan erupsi Gunung Agung.

Resume aktivitas Gunung Agung:

*26 November 2017*

18.00-19.00 WITA:

– CCTV Batulompeh merekam sinar api di atas puncak Gunung Agung.

19.00-20.00 WITA:

– Amplitudo tremor teramati cenderung menguat dari jam sebelumnya.

20.00-21.00 WITA:

– Terdengar dua kali suara dentuman di dalam kawah disertai kilat.

– Amplitudo tremor semakin menguat.

21.00-22.00 WITA:

– Terekam tremor overscale menguat di stasiun PSAG dan beberapa stasiun lainnya mulai pukul 21:36 WITA

22.00-23.00 WITA

– Terdengar satu kali dentuman pada pukul 22.26 WITA

– Amplitudo tremor teramati mulai melemah namun masih di atas background

23.00-24.00 WITA

– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung

– Amplitudo tremor teramati melemah namun masih di atas background

*27 November 2017*

00.00-01.00 WITA

– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung

– Amplitudo tremor teramati melemah namun masih di atas background

01.00-02.00 WITA

– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung

– Tremor menerus masih terjadi amplitudo 1-2 mm dominan 1 mm

02.00-03.00 WITA

– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung

– 02.11 WITA Tremor menerus amplitudo 3-10 mm dominan 3 mm

03.00-04.00 WITA

– Terlihat sinar api dari kawah gunung agung

– Tremor menerus masih terjadi amplitudo 1-2 mm dominan 1 mm

04.00-05.00 WITA

– Terekam 1 kali gempa letusan dengan amplitudo 21 mm, durasi 40 detik

– Tremor terekam membesar dari pukul 04:30 WITA dengan amplitudo 1 – 4 mm (dominan 3 mm). (mb/detik)

Pos terkait