Lima Perwira TNI Satgas Penanggulangan KKB Tolak Naik Pangkat

Metrobatam, Jakarta – Keberhasilan Satgas penanggulangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) gabungan TNI-Polri mengevakuasi warga dan mengamankan dua desa yang diisolasi di distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua mendapatkan apresiasi dari Panglima TNI, Gatot Nurmantyo.

Jenderal bintang empat itu pun terbang ke Papua untuk memberikan penghargaan terhadap 63 prajuritnya yang tergabung dalam satgas di Tembagapura.

Bacaan Lainnya

Dari 63 prajurit tersebut, lima di antaranya yang merupakan perwira menolak secara halus diberi kenaikan pangkat. Sontak hal tersebut membuat Gatot terharu.

“Lima perwira tersebut menyampaikan kepada saya, bahwa keberhasilan milik anak buah, kegagalan adalah tanggung jawab perwira sehingga yang pantas naik pangkat adalah anggotanya, ini suatu hal yang sangat luar biasa, yang membuat kami semua terharu,” ujar Gatot dalam upacara pemberian penghargaan yang digelar di depan bekas pos kelompok bersenjata, Desa Utikini, Tembagapura, Minggu (19/11) seperti dikutip dari rilis TNI yang diterima CNNIndonesia.com.

Meski tak menerima kenaikan pangkat, Gatot tetap bersikeras memberikan penghargaan terhadap lima perwiranya yakni kesempatan pendidikan.

“Maka lima perwira tidak menerima kenaikan pangkat tetapi diberikan pendidikan secara khusus (prioritas) mendahului rekan-rekannya. Inilah contoh teladan bagi prajurit yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi tetapi hanya mengutamakan kepentingan negara republik Indonesia,” kata Gatot yang sehari sebelumnya masih berada di Kota Bandung, Jawa Barat.

Satgas penanggulangan KKB melakukan operasi mengamankan desa Kimbely dan Banti yang diisolasi kelompok bersenjata. Dalam pelaksanaan operasi tersebut, Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen George Elnadus Supit, dan Asisten Operasi Kapolri Irjen M Iriawan memantau langsung di distrik Tembagapura pada Jumat (17/11).

Sebanyak 347 warga sipil yang umumnya pendatang berhasi dievakuasi, sementara warga asli desa-desa itu memilih tinggal dan dijamin pengamanan oleh TNI-Polri.

Sementara itu, sebanyak 58 prajurit anggota Satgas Penanggulangan KKB yang naik pangkat pada hari ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/920/XI/2017.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam sambutannya mengatakan bahwa prajurit yang tergabung dalam Satgas Pembebasan Sandera di Papua pantas diberikan penghargaan.

“Saya berikan penghargaan karena prajurit TNI telah melakukan operasi ini sangat teliti dengan pengamatan yang intensif, tidak mengenal lelah setiap hari, setiap saat, sehingga 347 warga masyarakat yang disandera bisa selamat semuanya tanpa luka sedikitpun,” kata Gatot.

Luar Biasa

TNI AD angkat topi terhadap kelima prajuritnya itu. “TNI AD mengapresiasi sikap dan keputusan lima perwira itu. Mereka pasti sulit untuk mengambil keputusan menolak kenaikan pangkat itu,” ujar Kadispen TNI AD Brigjen Alfret Denny Tuejeh dalam perbincangan, Senin (20/11).

Menurutnya, kenaikan pangkat luar biasa merupakan prestasi bagi prajurit. Bagi setiap personel TNI, kata Denny, kenaikan pangkat luar biasa itu merupakan sebuah kebanggaan. “Tapi sikap mereka menjadi contoh untuk prajurit yang lain, bahkan mungkin bagi masyarakat Indonesia, bahwa mereka melaksanakan tugas dengan sangat baik, tanpa pamrih,” ucapnya.

Lima perwira itu menolak kenaikan pangkat karena merasa apa yang dilakukannya sudah merupakan tugas mereka sebagai prajurit. Ada 62 orang dari satuan gabungan yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa atas upayanya membebaskan warga yang disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

“Mereka menunjukkan sikap keperwiraan yang luar biasa. Secara pribadi saya pun menaruh hormat dengan mereka. Sebetulnya tidak berlebihan kalau mereka mendapatkan penghargaan kenaikan pangkat luar biasa itu,” sebut Denny.

“Karena keberhasilan mengendalikan anak buah sehingga berhasil membebaskan sandera dalam jumlah sebesar itu dan itu tidaklah mudah,” imbuhnya.

Kelima perwira yang memimpin operasi gabungan pembebasan sandera tersebut dinilai Denny sudah melakukan kerjanya dengan sangat baik. Apalagi selama proses pembebasan sandera, tak ada satu pun korban dari sisi warga atau pun pasukan.

“Mereka melakukan dengan baik tanpa adanya korban di pihak pasukannya dan warga yang disandera. Akhirnya mereka memilih sekolah, artinya kenaikan pangkat bukan hal utama bagi mereka, tapi lebih mengutamakan peningkatan kualitas diri,” urai Denny.

“Mereka mengutamakan peningkatan profesionalisme, dan sesungguhnya mereka sudah menunjukkan sikap yang profesional. TNI AD bangga dengan mereka. Semoga mereka akan menjadi pemimpin yang hebat di masa depan,” sambung dia.

Pemberian kenaikan pangkat luar biasa kepada pasukan yang terlibat dalam operasi pembebasan sandera dilakukan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Papua, Minggu (19/11). Gatot mengungkap alasan kelima perwira itu menolak kenaikan pangkat.

“Para perwira meminta menjelaskan keberhasilan adalah milik anak buahnya. Apabila kegagalan adalah tanggung jawab para perwira, maka sepantasnya yang mendapatkan kenaikan pangkat hanya anak buahnya maka 5 perwira tidak menerima kenaikan pangkat tapi diberikan latihan khusus mendahului rekan-rekannya,” papar jenderal Gatot.

Lima perwira TNI AD yang menolak kenaikan pangkat itu adalah:

1. Kapten Inf SSP (Taipur)

2. Lettu Inf AZ (Taipur)

3. Lettu Inf AD (Kopassus)

4. Lettu Inf SPA (Kopassus)

5. Lettu Inf SAF (Yonif RK 751/VJS). (mb/okezone/detik)

Pos terkait