Tersebar di 7 Kabupaten, Ini yang Dibutuhkan Pengungsi Gunung Agung

Metrobatam, Karangasem – Pasca letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, yang terjadi pada Selasa, 21 November 2017, pukul 17:05 WIta. Letusan itu masuk jenis freatik yang terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat tetap tenang, dan tak terpancing informasi hoax yang bisa memperkeruh keadaan.

Bacaan Lainnya

“Masyarakat dihimbau tetap tenang. Jangan panik dan terpancing isu-isu menyesatkan. PVMBG akan terus memberikan informasi terkini. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, SKPD, relawan dan semua unsur terkait akan memberikan penanganan pengungsi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Human BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam rilisnya, Kamis (23/11).

Saat ini, lanjut Sutopo, kondisi Bali masih dalam kondisi aman. Bandara Internasional Ngurah Rai masih aman dan normal. “Pariwisata di Bali juga masih aman, selain di radius berbahaya di sekitar Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG yang memang tidak boleh ada aktivitas masyarakat,” tambahnya.

Koordinator Aksi Relawan Rumah Zakat Sugeng menuturkan, Pengungsi Gunung Agung kini tersebar di 7 kabupaten di sekitar Gunung Agung yaitu di Kabupaten Badung 5 titik (35 jiwa), Kabupaten Bangli 17 titik (465 jiwa), Kabupaten Buleleng 10 titik (2.423 jiwa), Kabupaten Denpasar 6 titik (343 jiwa), Kabupaten Giayar 9 titik (182 jiwa), Kabupaten Karangasem 54 titik (7.852 jiwa), Kabupaten Klungkung 21 titik (3.590 jiwa) dan Kabupaten Tabanan 3 titik (252 jiwa).

Pendataan, lanjut Sugeng, masih dilakukan oleh BPBD. Diperkirakan jumlah pengungsi masih bertambah. Pengungsi juga berada di GOR, balai desa banjar, rumah penduduk dan kerabatnya.

“Banyak titik pengungsian menyebabkan distribusi logistik dan bantuan terkendala karena petugas harus menyalurkan ke lokasi pengungsian yang terpencar,” kata Sugeng kepada Okezone, Kamis (23/11).

Dikatakan Sugeng, saat ini pihaknya tengah menerjunkan 5 relawan lokal dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, serta melakukan assesment lapangan.

“Kami sosialisasikan kepada warga masyarakat agar tetap tenang Dan selalu waspada, serta melakukan pendampingan kepada warga masyarakat yang sedang mengungsi,” katanya.

Selain membuka posko dan memberikan bantuan berupa sembako, kebutuhan mendesak saat ini yang dibutuhkan pengungsi yakni logistik dan kebutuhan air mineral.

Diimbau Kenakan Masker

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menimbau baik masyarakat, pendaki, maupun wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas di radius 6 hingga 7,5 KM dari Gunung Agung.

Kepala PVMBG Kasmani, seperti dilansir situs Magma Indonesia dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerangkan, saat ini letusan masih terus berlangsung. Asap teramati bertekanan sedang dengan warna kelabu tebal dan dengan ketinggian maksimum sekitar 700 meter di atas puncak, abu letusan itu bertiup lemah ke arah Timur-Tenggara.

“Masyarakat agar tetap tenang namun agar senantiasa mengikuti rekomendasi PVMBG dalam Status Level III (Siaga),” ujar Kasmani, Kamis (23/11).

Zona Perkiraan Bahaya, kata Kasmani, sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gungung Agung yang paling aktual. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh.

“Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya,” terangnya.

Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, tambah Kasmani, angin bertiup dominan ke arah Selatan-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.

Dikatakan Kasmani, mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia, maka diharapkan seluruh masyarakat untuk mengantisipasi hal itu.

“Utamanya yang bermukim di sekitar Gungung Agung maupun di Pulau Bali, segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik,” pungkasnya. (mb/okezone)

Pos terkait