Dituduh sebagai Biang Kerok Permasalahan Bangsa, PDIP Tantang Alumni 212 Berdebat

Metrobatam, Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menantang Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk berdebat soal demokrasi dan Pancasila. Hal ini merupakan respons terhadap pernyataan PA 212 yang menyebut PDIP sebagai biang kerok permasalahan bangsa Indonesia.

Politisi PDIP Eva Kusuma Sundari menyebut partainya memiliki kinerja, demokrasi di internal, dan kualitas sumber daya manusia yang baik. Menurutnya, PDIP juga menjadi unggulan karena memiliki elektabilitas paling tinggi.

Read More

“Jadi paling pas untuk diajak debat, dialog, diskusi dengan Alumni 212 supaya bisa jadi warga negara yang masuk kategori pemilih cerdas,” ujar Eva saat dihubungi CNNIndonesia.com via pesan singkat, Sabtu (27/1).

Eva menyampaikan, seharusnya PA 212 paham kalau PDIP adalah partai yang legal dan terlegitimasi. Ia menganggap, masyarakat tahu PDIP menempuh jalur-jalur ksatria dan konstitusional untuk mewujudkan kemajuan di Indonesia.

Ia menyarankan PA 212 untuk menyalurkan hasrat politiknya dengan membentuk partai. Hal ini, menurutnya, agar organisasi itu memiliki posisi yang sama dengan PDIP.

“Sebaiknya Alumni 212 bikin partai, ikut jadi aktor demokrasi sehingga kompatibel dengan PDIP,” ucapnya.

Sebelumnya Persaudaraan Alumni 212 menyatakan sikap politik menjelang pilkada 2018 dan pemilu 2019. Mereka menargetkan kekalahan PDI Perjuangan serta mendukung soliditas Partai Gerindra, PKS, dan PAN yang mereka sebut sebagai Koalisi 212.

Hal itu mengacu pada peta politik yang dirumuskan Rizieq Shihab dalam dokumen Resolusi Musyawarah Nasional Ulama, Tokoh, dan Aktivis 212. Sementara, Persaudaraan Alumni (PA) 212 adalah nama baru pengganti Presidium Alumni 212.

Ketua Umum PA 212 Slamet Ma’arif mengatakan, Koalisi 212 secara nasional terpecah. Karena itu, sikap politik PA 212 pun berbeda-beda di setiap daerah yang melangsungkan pilkada serentak.

“Namun yang demikian itu tidak mengurangi semangat juang para Mujahid & Mujahidah 212 untuk tetap pada prinsip pemenangan umat Islam secara politik,” kata Slamet saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/1).

Slamet menyatakan, kelompoknya sepakat mendukung partai Koalisi 212 jika solid. Dia menyebut tiga wilayah penyelenggara pilkada di mana partai Koalisi 212 secara utuh mengusung calonnya.

“Koalisi 212 utuh tanpa ditunggangi partai pendukung penista agama seperti di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara,” kata Slamet.

Seperti diketahui, Gerindra, PKS, dan PAN berkoalisi mengusung calon gubernur di tiga wilayah tersebut. PA 212 pun akan mendukung pemenangan calon di wilayah tersebut karena Koalisi 212 masih utuh.

“Kami akan terus berjuang, agar Koalisi ini memenangkan pertempuran di wilayah tersebut. Tetapi kalau Koalisi terpecah, terbelah, tersingkirkan, penyikapan kami juga berbeda,” kata Slamet.

Di sisi lain, Slamet menegaskan, pihaknya akan mengerahkan segala kemampuan untuk menjegal seluruh calon yang diusung PDIP pada pilkada serentak 2018. Namun dia tak menyebut secara rinci apa yang akan dilakukan. Slamet hanya menuding partai yang tengah berkuasa saat ini adalah sumber persoalan bangsa.

“Ada satu partai yang menurut kami jadi target utama untuk dikalahkan. Bagi kami partai tersebut biang kerok persoalan bangsa ini,” kata Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif di Jakarta Selatan, Sabtu (27/1).

“Siapapun yang diusung, bergabung dengan siapapun, kami akan imbau, kami akan perjuangkan agar calon tersebut bisa dikalahkan di pilkada 2018,” ujarnya.

Di wilayah tertentu, kata Slamet, kelompoknya tidak akan mendukung Koalisi 212 yang berkoalisi dengan PDIP dan partai-partai pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pilgub DKI Jakarta 2017 lalu. (mb/cnn indonesia)

Related posts