Crane Proyek DDT Kereta Api Ambruk, 4 Pekerja Tewas

Jakarta – Crane pada proyek double-double track (DDT) kereta api di Jatinegara, Jakarta Timur memakan korban jiwa. PT Hutama Karya (HK) sebagai pelaksana proyek menegaskan bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa tersebut.

“Kami akan bertanggung jawab,” ujar Sekretaris Perusahaan HK, Adjib Al Hakim saat dihubungi detikcom, Minggu (4/2).

Read More

Adjib mengaku belum bisa banyak berkomentar mengenai kecelakaan tersebut. Saat ini pihaknya masih melakukan investigasi. Namun dia memberi penjelasan bahwa yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa tersebut bukanlah crane yang jatuh, melainkan adanya launcher girder yang tergelincir.

“Sebetulnya bukan crane jatuh, tetapi launcher tergelincir. Untuk kronologinya masih kita investigasi,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, sebuah crane proyek DDT di Jatinegara ambruk saat petugas tengah menaikkan bantalan rel. Bantalan rel itu seketika jatuh saat sudah berada di atas dan menimpa pekerja yang berada di bawah.

Lokasi kejadian berada di pinggir rel kereta api RT014/RW07 Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/2) sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat kejadian ini, empat orang pekerja meninggal dunia.

Seorang saksi mata Muhammad Alwi sempat mendengar suara dentuman keras sesaat sebelum crane di lokasi pengerjaan proyek double-double track kereta api di Jatinegara, Jakarta Timur ambruk. Saat tiba di lokasi dia melihat 2 korban tewas dan beberapa orang lainnya meminta tolong.

“Setelah salat subuh tadi saya mendengar suara dentuman yang besar. Saya langsung berlari ke lokasi karena khawatir ini berhubungan dengan rumah warga,” ujar Alwi di lokasi kejadian, Minggu (4/2).

Alwi yang juga Ketua RW 06, mengatakan crane tersebut ambruk sekitar pukul 05.00 WIB pagi tadi. Korban kritis yang meminta tolong langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Asumsi saya ini ini suara proyek. Pas saya ke lokasi ternyata ada korban, yang kami lihat tadi 2 orang tewas, yang 3 sampai 5 orang lainnya dibawa dengan cepat-cepat karena masih minta tolong,” kata Alwi.

Alwi tidak mengetahui dengan pasti kronologi kejadian. Dia bersama warga tidak dapat mendekat ke lokasi saat kejadian.

“Pas setelah salat subuh orang-orang masih di rumah. Tapi yang saya khawatirkan alat ini kan berkesinambungan ke rumah masyarakat,” ucapnya. (mb/detik)

Related posts