Muazin Ini Meninggal Saat Kumandangkan Azan Subuh

Metrobatam, Jakarta – Haji Kaimin, muazin yang meninggal saat mengumandangkan azan Subuh, dikenal sebagai sosok yang sederhana. Haji Kaimin banyak menghabiskan waktunya di musala tempat dia meninggal.

Di mata keluarga Haji Kaimin memiliki kepribadian yang baik dan penyayang. Menurut seorang menantunya Novitasari (38), Haji Kaimin memang sangat rajin bersih-bersih.

Bacaan Lainnya

“Ya dia supel, memang ringan tangan, suka bantu orang, nggak mikirin dirinya. Pokoknya semua dia dibantu. Tadinya muazin jadi sekalian (marbot), emang dia seneng beres beres,” tutur Novi di kediaman Haji Kaimin, di Perumahan Aneka Elok, Blok A7 nomer 14, Penggilingan, Jakarta, Selasa (27/2).

Setelah pensiun dari Bank Indonesia, Haji Kaimin menghabiskan waktunya di rumah dan rajin ke musala untuk bersih-bersih sekaligus menjadi muazin. Novi menuturkan beberapa bulan sebelum kepergiannya, Haji Kaimin menjadi lebih sering ke musala daripada biasanya.

“Beberapa bulan belakangan ini emang sering rajin ke musala, dikit-dikit ke musala, emang nggak bisa ninggalin musala,” ujar Novi.

Sebelum kepergiannya, Haji Kaimin sempat meminta ingin pulang ke kampung halamanya di Citayam, Depok. Ternyata, ini merupakan pesan terakhir dari Haji Kaimin ke keluarga. “Dia cuma ngomong-ngomong begitu aja, pengen tinggal di kampung, nggak taunya dikuburnya di kampung di Citayam, Depok, itu keinginannya” ujar Novi.

Haji Kaimin meninggal dalam usia 73 tahun. Tetangga dan pengurus Musala Al Muhajirin juga merasa kehilangan. dan meninggalkan kesan baik bagi para tetangganya.

“Ya orangnya sederhana, ringan tangan, tiap malam Jumat kita kan disini yasinan, beliau yang suka bagiin makanan ringan,” ujar Bendahara Musala Al-Muhajirin, Adeng Djumhana (66).

Menurut Adeng, Haji Kaimin sangat rajin membersihkan musala secara sukarela. Ia sering datang ke musala lebih dulu ketika solat waktu tiba.

“Sebelum azan, almarhum bersih bersih dulu, karpet disapu, lantai dipel, beliau sebagai marbot juga, ya walaupun ngga mau (dibayar), tapi kita tetap kasih uang capek,” ujar Adeng.(mb/detik)

Pos terkait