Anak Krakatau Kembali Erupsi, Abu Vulkanis Mengarah ke Timur Selat Sunda

Metrobatam, Lampung – Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Lampung kembali erupsi. Tercatat selama 2 pekan, gunung berapi ini meletus hingga ratusan kali dalam sehari. Saat ini statusnya berada pada level II atau waspada, namun warga dan wisatawan dihimbau tetap tenang karena masih dalam level aman.

Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali erupsi, terpantau hingga Senin (6/8) siang masih terlihat mengeluarkan abu vulkanis berwarna hitam pekat dengan tinggi kolom mencapai 500 hingga 600 meter. Material abu vulkanis akibat erupsi mengarah ke timur Selat Sunda tepatnya di lintasan kapal penyeberangan hingga puluhan kilometer.

Read More

Gunung Anak Krakatau Erupsi Setinggi 1.000 Meter Tidak Membahayakan Penerbangan Pesawat Terbang Ilustrasi Erupsi Gunung Anak Krakatau

Meski demikian, dipastikan kolom abu vulkanis tersebut jatuh di Selat Sunda sehingga tidak mengganggu aktivitas kapal nelayan serta kapal penyeberangan. Sebenarnya pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau bisa dilihat secara visual menggunakan mata telanjang dibantu teropong, namun saat erupsi tingginya kabut dan penguapan membuat pengamatan di pos pantau di Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan sulit dilakukan.

Meski mengeluarkan material abu vulkanis, namun dengan pengamatan menggunakan teropong, tidak terlihat lava pijar. Sesuai pemantauan seismograf tercatat aktivitas kegempaan di dominasi gempa tremor dengan amplitudo dominan mencapai 42 mikrometer.

Sejak minggu kemarin tercatat telah terjadi 63 kali letusan, 31 kali hembusan, 44 kali vulkanik dangkal, 3 vulkanik dalam dan gempa tremor menerus (mikrotremor) yang terekam dengan amplitudio 2 sampai 15 mikrometer dominan 3 mikrometer, kondisi dengan letusan teramati sebanyak 200 kali dengan ketinggian 300 hingga 600 meter dengan warna asap hitam,” ungkap Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi.

Di ketahui dalam beberapa tahun terakhir semenjak letusan pada 2012 dinyatakan level waspada aktivitas di sekitar Gunung Anak Krakatau hanya diperbolehkan dalam radius 1 kilometer, meski terus beraktivitas kondisi tersebut merupakan sebuah kegiatan pelepasan energi yang akan mengurangi energi yang tersimpan di dalam perut bumi. Sebelumnya, pada Jumat 2 Agustus 2018 Gunung Anak Krakatau juga mengeluarkan lava pijar disertai dentuman keras seperti guntur. (mb/okezone)

Related posts