Arab Saudi dan Uni Emirat Arab Pernah Berencana Serang Qatar

Washington DC – Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson, dilaporkan telah mencegah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) untuk menyerang Qatar. Saudi dan UAE disebut telah merencanakan operasi militer terhadap Qatar pada awal-awal krisis diplomatik yang pecah Juni 2017.

Dilaporkan oleh situs berita investigatif The Intercept, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (2/8/2018), Tillerson yang saat itu masih menjabat Menlu AS, berhasil menghentikan rencana Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menyerang Qatar.

Bacaan Lainnya

The Intercept menyebut bahwa dalam rencana serangan itu, tentara Saudi akan melintasi perbatasan darat dengan Qatar dan masuk sejauh 100 kilometer ke dalam wilayah Qatar, untuk kemudian menduduki ibu kota Doha. Serangan itu akan dilakukan dengan dukungan militer UAE.

Kiprah Tillerson menghentikan rencana serangan terhadap Qatar itu disinyalir berkontribusi pada pemecatannya sebagai Menlu AS oleh Presiden AS Donald Trump. Diketahui bahwa Tillerson dipecat sebagai Menlu AS pada Maret lalu dan kini digantikan oleh Mike Pompeo yang mantan Direktur CIA.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari seorang anggota aktif komunitas intelijen AS dan dua mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, The Intercept menyebut serangan itu direncanakan oleh Putra Mahkota Saudi dan UAE. Informasi The Intercept menyebut serangan itu berhasil dihentikan sekitar ‘kemungkinan beberapa minggu sebelum dilaksanakan’.

Disebutkan oleh The Intercept, serangan terhadap Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, itu akan melibatkan pengepungan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar oleh pasukan militer Saudi. Diketahui bahwa pangkalan udara itu juga menjadi markas Komando Pusat Angkatan Udara AS dan menampung 10 ribu tentara AS. Faktanya, Al Udeid menjadi salah satu pangkalan militer luar negeri paling penting bagi AS.

Menurut The Intercept, setelah Tillerson diberitahu rencana serangan militer ini oleh pejabat intelijen Qatar, dia dilaporkan mendesak Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud untuk tidak melancarkan serangan ke Qatar. Tillerson juga dilaporkan meminta Menteri Pertahanan AS James Mattis untuk menjelaskan bahaya invasi militer semacam itu kepada Saudi.

Tekanan dari Tillerson membuat Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, atau MBS membatalkan rencana serangan. MBS disebut khawatir jika invasi militer ke Qatar akan merusak hubungan Saudi dan AS yang terjalin sejak lama.

Intervensi yang dilakukan Tillerson itu membuat marah Putra Mahkota Abu Dhabi dan penguasai de-facto UAE, Mohammed bin Zayed, atau MBZ. Dilaporkan bahwa MBZ kemudian melobi Gedung Putih untuk memecat Tillerson.

Namun The Intercept menyebut bahwa tidak ada satupun pejabat aktif maupun mantan pejabat AS yang diwawancarainya yang mengetahui alasan sebenarnya Trump memecat Tillerson. Namun satu sumber menyinggung momen pencopotan Tillerson yang terjadi seminggu sebelum MBS melakukan kunjungan ke AS, sebagai faktor signifikan.

Saudi bersama UEA, Mesir dan Bahrain memutus hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar sejak 5 Juni 2017. Mereka kompak menuding Qatar mendukung ‘ekstremisme dan terorisme’ juga semakin mendekatkan diri dengan Iran, rival abadi Saudi. Otoritas Qatar telah membantah tudingan-tudingan itu. (mb/detik)

Pos terkait