Hingga Senin Pagi Tercatat 593 Gempa Susulan, Kerugian Capai Rp5,04 Triliun

Metrobatam, Jakarta – Gempa susulan masih terjadi pasca-gempa Lombok berkekuatan 7,0 SR. Hingga Senin pagi, tercatat ada 593 gempa susulan.

“Update Gempa Bumi Lombok M 7,0 (5 Agustus 2018) sampai tanggal 13 Agustus 2018 pukul 10.00 WITA tercatat sebanyak 593 gempa susulan,” ujar Kepala Bagian Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko lewat keterangan tertulis, Senin (13/8).

Bacaan Lainnya

Gempa berkekuatan 7,0 SR ini terjadi pada hari Minggu (5/8) pekan lalu. Korban tewas akibat gempa terus bertambah. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat total korban tewas akibat gempa Lombok hingga saat ini sudah 392 orang.

“Hingga Sabtu (12/8) tercatat 392 orang meninggal dunia akibat gempa bumi 7 SR di wilayah NTB dan Bali,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (12/8).

Korban tewas itu tersebar di Kabupaten Lombok Utara sebanyak 339 orang, Lombok Barat 30 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 10 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang.

Terkait gempa di Lombok, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dijadwalkan akan ke NTB hari ini. Selain Tito, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan terbang ke NTB siang ini.

Kerugian Capai Rp5,04 Triliun

Kerugian akibat gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai Rp5,04 triliun. Jumlah itu merupakan hasil hitung sementara dampak gempa di NTB, baik berkekuatan 6,4 SR pada 29 Juli 2018 maupun 7 SR pada 5 Agustus 2018.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dampak kerugian ekonomi akibat gempa di NTB sangat besar. Ia menjelaskan, kerugian Rp5,04 triliun itu merupakan hasil sementara hitung cepat yang dilakukan Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB.

Angka ini sementara, hanya berdasarkan basis data pada 9/8/2018. Dipastikan dampak ekonomi lebih dari Rp5,04 triliun nantinya,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (13/8).

Kerugian Rp5,04 triliun itu berasal dari berbagai sektor. Paling banyak berasal dari sektor permukiman, mencapai Rp3,82 triliun.

Sutopo merincikan, kerugian Rp5,04 triliun tersebut berasal dari sektor permukiman Rp3,82 triliun, infrastruktur Rp7,5 miliar, ekonomi produktif Rp432,7 miliar, sosial budaya Rp716,5 miliar, dan lintas sektor Rp61,9 miliar.

Kerusakan dan kerugian terbanyak adalah sektor permukiman yang kenyataan puluhan ribu rumah penduduk rusak berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah,” jelasnya.

Secara wilayah, Sutopo memaparkan, kerusakan dan kerugian akibat gempa di NTB paling banyak adalah di Kabupaten Lombok Utara yang mencapai lebih dari Rp2,7 triliun. Berikutnya Kabupaten Lombok Barat mencapai lebih dari Rp1,5 triliun, Lombok Timur Rp417,3 miliar, Lombok Tengah Rp174,4 miliar, dan Kota Mataram Rp242,1 miliar.

Dampak kerusakan dan kerugian ekonomi di Bali masih dilakukan perhitungan,” katanya.

Ia mengatakan, kerusakan dan kerugian ini sangat besar. Apalagi jika nanti data sudah terkumpul semua, ia melanjutkan maka jumlahnya akan lebih besar.

Perlu triliunan rupiah untuk melakukan perbaikan kembali dalam rehabilitasi dan rekonstruksi. Perlu waktu untuk memulihan kembali kehidupan masyarakat dan pembangunan ekonomi di wilayah NTB. Pemerintah pusat akan terus mendampingi masyarakat dan Pemda NTB.

Pendampingan ini bukan hanya saat tanggap darurat saja, tetapi saat pascabencana melalui rehabilitasi dan rekonstruksi pun,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah pusat akan terus membantu, bahkan sebagian besar bantuan yang disalurkan berasal dari pemerintah pusat. Skala penanganan dampak dampak gempa saat ini sesungguhnya sudah nasional.

Artinya kapasitas nasional yang digerakkan untuk penanganan darurat saat ini sudah skala nasional, baik pengerahan personel, anggaran, logistik, peralatan, dan manajerial,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 436 orang meninggal dunia akibat gempa 7 skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) minggu lalu. Paling banyak korban tewas berada di wilayah Lombok Utara. (mb/detik/okezone)

Pos terkait