Ratusan Hektar Sawah di Cirebon Hingga Garut Terancam Kekeringan

Metrobatam, Jakarta – Ratusan hektare sawah di Cirebon hingga Garut terancam gagal panen akibat kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mencatat pada musim kemarau kali ini tercatat seluas 126 hektare tanaman padi terkena puso atau gagal panen.

“Lahan yang terkena puso terdapat di Cirebon bagian timur itu mencapai 126 haktare, karena sudah tanam, namun air tidak ada,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali Effendi, Rabu (1/8) seperti dikutip dari Antara.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan kekeringan terjadi karena musim kemarau, dan aliran air dari Waduk Darma, Kuningan saat ini kurang maksimal.

“Di wilayah (Cirebon) timur harus diwaspadai, karena masih ada yang baru ditanam satu bulan, dan harus ada suplai air (irigasi) untuk menyelamatkannya,” kata Ali.

Ali menambahkan secara keseluruhan di Kabupaten Cirebon, tanaman padi yang terancam kekeringan itu sekitar 25 ribu hektare. Namun itu semua bisa diselamatkan kalau irigasi yang bersumber dari beberapa waduk bisa dipertahankan debit aliran airnya.

“Intinya kalau Cirebon mau aman tidak ada kekeringan, itu aliran dari waduk harus 16 meter kubik per detik itu akan aman semua,” kata Ali.

Sementara itu di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sawah-sawah pun terancam gagal panen karena kurangnya pasokan air dari saluran irigasi dampak dari musim kemarau sebulan terakhir.

“Sudah lama tidak turun hujan, kalau dua minggu ke depan tidak turun hujan, sawah saya bisa mati,” keluh Asep Suharja petani asal Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Garut, Rabu (1/8) dikutip dari Antara.

Air irigasi yang selama ini diandalkan petani Selaawi, katanya, sudah menipis sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air di kawasan Desa Cigawir.

Ia menambahkan, air irigasi yang melintas di Desa Cigawir hanya cukup mengairi sekitar irigasi, sedangkan sawah yang lokasinya lebih jauh tidak kebagian air. “Tadinya saya mengadu nasib akan cepat turun, tapi nyatanya tidak turun (hujan),” katanya.

Petani lainnya, Epon (52) menyebutkan sebagian tanah sawah yang sudah ditanami sebulan lalu mulai terlihat retak-retak akibat kekurangan pasokan air.

Meskipun sudah terlihat retak, ia tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan air sawah dari air irigasi yang ada dengan harapan tidak terlalu besar kerugiannya. “Saya berusaha agar sawah tetap terpenuhi airnya, dan mudah-mudahan hujan turun,” katanya.

Di tempat terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat menyatakan dua desa di wilayah selatan daerah itu sudah mengalami kekeringan.

“Kami sudah melakukan pendataan. Terdapat dua desa yang terkena dampak musim kemarau,” kata Sekretaris BPBD Karawang, Supriatna.

Ia mengatakan dua desa yang sudah terkena dampak musim kemarau tersebut adalah Desa Cintalaksana Kecamatan Pangkalan dan Desa Kutalanggeng Kecamatan Tegalwaru.

Supriatna mengaku telah mengantisipasi dampak musim kemarau tersebut, di antaranya berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tarum Karawang.

“Koordinasi dengan PDAM sudah dilakukan untuk kepentingan pendistribusian air bersih,” kata dia.

Sementara itu, warga di sejumlah desa di sekitar Kecamatan Tegalwaru, Karawang, terpaksa membeli air dari pedagang air bersih keliling pada musim kemarau tahun ini. “Setiap hari saya harus beli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, karena mata air dan sumur kering,” kata Heni. (mb/cnn indonesia/antara)

Pos terkait