Turis Ini Bertahan dengan Kerupuk di Bukit Senggigi Lombok

Metrobatam, Jakarta – Marcello (22), wisatawan asal Italia, tak menyangka kedatangannya yang pertama kali ke Indonesia akan disambut gempa bumi dengan kekuatan 7 Skala Richter (SR), di NTB, Minggu (5/8). Ia kemudian bertahan di perbukitan Senggigi dengan bekal seadanya demi menghindari Tsunami.

“Semua orang berlarian, menghindari dinding-dinding. Semua ketakutan. Kami baru kali pertama ke sini, tidak menyangka akan ada hal seperti ini dalam liburan kami,” katanya, kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Senin (6/8) pagi.

Read More

“Tidak ada terluka dalam rombongan kami. Gempa ini terjadi dan kami tidak bisa menghindarinya. Kebetulan terjadi ketika kami sedang liburan,” Marcello menambahkan.

Menurut Ahnaf Fathi Hidayat, WNI yang menjadi rekan kuliah Marcello selama di Belanda, goncangan dahsyat mulai dirasakan sekitar pukul 18.40 WITA. Ketika itu, ia dan Marcello, serta rekannya dari Spanyol, Bea, baru saja pulang ke Hotel Sendok, NTB, setelah seharian jalan-jalan di daerah Senggigi.

“Kami sedang bersantai di pinggir kolam renang ketika itu, tiba-tiba seperti ada suara pesawat mau lepas landas. Lalu tanah bergoncang dengan sangat kencang, sampai kami yang sedang duduk harus menjaga keseimbangan. Suaranya (gempa) besar sekali,” tutur Ahnaf.

“Tiba-tiba juga perabotan jatuh, orang-orang berteriak dan panik, air kolam renang tumpah. Kami kaget, kami tidak tahu harus bagaimana. Kemudian kami mencoba keluar dari area kolam renang pelan-pelan, sambil melindungi kepala kami seadanya dengan tangan,” ujarnya kembali.

Gempa kemudian terasa selama sekitar 10 detik saat mereka bersantai. Ia sempat mengira gempa berasal dari Gunung Rinjani karena sempat mendengar soal kondisi vulkanik pascagempa.

Ahnaf dan kawan-kawan kemudian berjalan ke luar hotel dengan menghindari bangunan tinggi. “Anjing-anjing, serangga, dan kodok sangat berisik. Anjing mengonggong tak karuan, binatang-binatang Itu mengarah ke pantai. Itu mengerikan, saya diam saja dan berdoa,” sambung dia.

“Setelah itu kami diam di depan hotel dalam suasana yang gelap karena mati lampu total, gelap sekali tapi jalanan depan hotel ramai. Saya dengar ada ibu-ibu berteriak mencari suaminya, klakson mobil-mobil. Dan kami mendengar juga ada ancaman tsunami,” tuturnya lagi.

Karena mendengar kabar ada ancaman tsunami, mereka lalu memutuskan untuk pergi ke Bukit Senggigi. Beruntung, ia bertemu dengan sebuah keluarga yang berasal dari Selandia Baru yang bersedia memberikan tumpangan ke bukit.

“Kebetulan keluarga itu punya villa di bukit. Jadi kami menumpang kendaraan mereka. Total ada 15 orang di villa itu, kami menetap di sana untuk sementara,” kata Ahnaf.

Pascagempa, Ahnaf mengaku susah mencari makanan lantaran warung dan rumah warga hancur. “Di hotel-hotel juga tidak ada makanan. Akhirnya kami menemukan warung yang masih utuh tapi tidak ada penjualnya. Kami ambil kerupuk beberapa bungkus, air mineral, dan meninggalkan uang Rp50 ribu,” katanya menambahkan.

Dengan kerupuk dan air mineral itu ketiganya bertahan hingga pagi hari. Kini mereka sudah turun bukit dan mengambil barang-barang mereka di hotel untuk segera melanjutkan perjalanan ke Bali.

Kendati mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan, Marcello mengaku tetap ingin kembali ke Indonesia. “Banyak pemandangan indah di sini dan orangnya ramah,” ucap dia.

Ia berharap pemerintah Indonesia memberi pengetahuan yang cukup kepada warganya mengenai hal yang mesti dilakukan saat terjadi bencana, seperti gempa bumi.

Sebab, Marcello melihat warga di Lombok, tampak sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat bencana itu terjadi.

“Begitu pula staf hotel (kebingungan saat gempa). Pemerintah Indonesia harus punya rencana yang baik untuk menghadapi peristiwa seperti itu,” tandasnya.

Berdasarkan data sementara BNPB, korban meninggal dalam bencana itu mencapai 82 orang. Mayoritas akibat tertimpa bangunan yang runtuh. BNPB mengimbau warga tetap tenang namun senantiasa waspada usai gempa Lombok 7 SR.

Penerbangan Berjalan Normal

Sementara PT Angkasa Pura I menegaskan hingga saat ini belum ada penundaan ataupun pembatalan penerbangan pascagempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8) malam.

Penerbangan dari dan menuju Bali dan Lombok pun disebut masih aman dan belum ada penundangan operasional akibat gempa.

Corporate Communication Senior Manager PT Angkasa Pura I Awaluddin mengatakan kerusakan minor yang menimpa Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, Bali, tidak menganggu operasional penerbangan maupun aktivitas bandara lainnya.

Kerusakan pintu dan plafon runtuh, kata Awaluddin, antara lain terjadi di ruang tunggu penumpang dan area klaim bagasi. “Operasional penerbangan tidak mengalami penundaan atau cancel flights, sampai saat ini kita pastikan berjalan dengan normal,” kata Awaluddin kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/8).

Perbaikan pun terus dilakukan dalam waktu 1×24 jam. Sementara, Awaluddin juga memastikan tidak ada kerusakan pada fasilitas sisi udara (airside) seperti runway, taxiway, dan apron.

Terpisah, AirAsia Kuala Lumpur menegaskan bahwa penerbangan ke dan dari Lombok serta Bali hingga Senin (6/8) hari ini masih beroperasi secara normal setelah gempa bumi.

Penumpang yang bepergian menuju atau dari Lombok dan Bali mulai 6 hingga 10 Agustus 2018 dapat memilih salah satu dari opsi pemulihan layanan yang ditawarkan.

Opsi pertama adalah perubahan jadwal penerbangan.

“Ubah ke tanggal perjalanan baru di rute yang sama dalam 14 hari kalender dari waktu penerbangan asli tanpa biaya tambahan, tergantung ketersediaan kursi,” kata Bagian Komunikasi AirAsia Heiddy Gan.

Opsi kedua, lanjutnya, adalah konversi tiket menjadi rekening kredit dengan mempertahankan nilai ongkos di akun Loyalitas AirAsia BIG penumpang untuk perjalanan selanjutnya dengan AirAsia.

“Akun kredit online berlaku untuk pemesanan dalam 90 hari kalender sejak tanggal penerbitan,” ujar Heiddy. (mb/detik)

Related posts