Analisis: Ratna Sarumpaet, Blunder Isu dan Kelas Prabowo-Sandi

Metrobatam, Jakarta – Mengenakan kerudung abu-abu, kemeja putih, dengan celana cokelat muda, aktivis #2019GantiPresiden Ratna Sarumpaet duduk di sofa di samping kiri calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, di Hambalang, Bogor, Selasa (2/10) siang.

Hadir pula Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, serta Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Ketika itu, Ratna disebut menceritakan penganiayaan yang dialaminya kepada para tokoh oposisi itu. Pertemuan itu diketahui dari foto yang beredar.

Read More

Selang beberapa jam, Prabowo yang didampingi Amien, Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Jenderal (Purn) Djoko Santoso, Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, serta sejumlah pihak lainnya, memberikan keterangan pers.

Prabowo mengutuk keras penganiayaan terhadap Ratna, yang sebelumnya masuk dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Dia menyebut tindakan tersebut adalah pelanggaran HAM dan pengecut karena dilakukan kepada seorang ibu-ibu.

“Apa yang dialami Ibu Ratna ini tindakan yang di luar kepatutan, tindakan jelas melanggar HAM dan tindakan pengecut karena dilakukan terhadap ibu-ibu yang usianya sudah 70 tahun,” kata Prabowo kediamannya di Jakarta Selatan, Selasa (2/10) malam.

Selain itu, sejumlah nama politikus oposisi, seperti Fadli Zon, Rachel Maryam, Ferdinand Hutahaean, Andi Arief, Hanum Rais, ikut menyampaikan kabar bohong itu lebih dulu lewat media sosial. Amien Rais dan politikus PKS Fahri Hamzah pun ikut mengutuk kasus itu.

Saat itu, Ratna belum menyampaikan sendiri kepada publik soal penganiayaan yang disebut-sebut menimpanya pada 21 September 2018. Polemik kemudian bergulir, terutama setelah ada analisis-analisis di media sosial yang meragukan terjadinya penganiayaan yang diklaim Ratna itu.

Esoknya, Ratna buka mulut. Dia yang didampingi Ansufri Idrus Sambo menyampaikan fakta yang sebenarnya mengenai kondisi lebam pada wajahnya. Ratna mengatakan dirinya tak mengalami penganiayaan.

Dia mengaku menjalani operasi sedot lemak pipi di Rumah Sakit Khusus (RSK) Bina Estetika, pada 21 September 2018. Juru Kampanye Nasional Prabowo-Sandi itu pun meminta maaf kepada Prabowo serta seluruh pihak yang merasa dirugikan dengan tindakannya.

“Itulah yang terjadi. Jadi tidak ada penganiayaan. Itu hanya khayalan entah setan mana. Saya tidak sanggup melihat Prabowo dan sahabat-sahabat saya membela dalam jumpa pers,” kata Ratna di kediamannya, Rabu (3/10).

Simpati kepada Ratna kemudian berubah usai ibu kandung dari aktris Atiqah Hasiholan itu menyampaikan hal yang sesungguhnya. Ia dikecam karena telah berbohong kepada rekan-rekannya sesama pendukung Prabowo-Sandi.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar menilai Tim Prabowo-Sandi awalnya berencana ‘menggoreng’ isu penganiayaan Ratna untuk menarik simpati masyarakat sekaligus menyerang Pemerintah.

“Kalau melihat dari konteks ini ada upaya untuk menggoreng, sukur-sukur mendapat peluang bagus adanya isu Ratna itu. Hanya memang terlalu tidak apik. Bohongnya itu kentara banget, tidak baik juga untuk masyarakat,” kata Idil kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/10).

Idil mengatakan masalah Ratna ini akan menjadi ekses buruk sekaligus bumerang bagi Prabowo-Sandi. Seharusnya, Ratna tak perlu melakukan hal tersebut bila ingin menarik simpati masyarakat.

“Saya kira tidak sampai harus segitunya untuk melakukan berbagai upaya mendegradasi pasangan calon yang lain untuk mendapat keuntungan pribadi. Nah, akhirnya sekarang jadi malu sendiri,” ujarnya.

Baginya, peristiwa ini akan membuat rakyat tidak senang. Kebohongan Ratna bakal menjadi contoh buruk bagi rakyat.

“Ini akan menjadi catatan penting bagi rakyat, bahwa cara yang dilakukan tidak memberikan contoh yang baik buat Indonesia,” tuturnya.

Batu Sandungan

Idil menyatakan kasus kebohongan Ratna bisa menjadi batu sandungan dan blunder bagi Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Hal ini juga mengindikasikan pasangan ini tak sepadan untuk melawan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Sangat [menjadi batu sandungan]. Ini kan rakyat melihat, seluruh Indonesia melihat, ada persoalan di kejujuran untuk memenangkan Pilpres ini,” kata dia.

“Sangat blunder menurut saya. Karena dengan cara begini semakin menunjukan kelas Prabowo-Sandi tidak lagi berposisi sebagai kelas yang kompetitif dengan Jokowi-Ma’ruf Amin,” ujarnya.

Dia menilai seharusnya Tim Prabowo-Sandi melakukan konfirmasi ke sejumlah pihak lainnya terlebih dahulu mengenai kabar penganiayaan, meskipun mendengarkan langsung dari Ratna. Padahal, kata Idil, dalam sejumlah kesempatan Tim Prabowo-Sandi kerap mengedepankan tabayyun.

“Mereka selalu mengatakan tabayyun, jangan menyebarkan hoaks. Dengan ini saya kira menjadi pelajaran penting bagi mereka,” tuturnya.

Sementara itu, Juru Bicara Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Prabowo terhadap Ratna merupakan bentuk pertolongan terhadap seorang ibu berumur 70 tahun dan untuk mendapatkan keadilan di mata hukum.

“Sehingga kemarin malam Pak Prabowo di dampingi Pak Amien dan Pak Djoksan melakukan konpers agar kasus ini bisa diusut secara tuntas dan berkeadilan,” kata Andre.

Namun, kata Andre, Ratna hari ini mengeluarkan pengakuan yang berbeda 180 derajat dari pengakuan kepada Prabowo dan yang lainnya. Menurut Andre, tindakan Ratna tersebut di luar kuasa pihaknya.

“Tapi yang jelas ini menunjukkan bahwa Pak Prabowo adalah seseorang yang selalu berprasangka baik kepada setiap orang, dan selalu menolak kekerasan-kekerasan terhadap wanita,” ujarnya. (mb/cnn indonesia)

Related posts