Miris, Bocah 7 Tahun Pengungsi Gempa Palu Dicabuli 3 Pemuda, Ini Kronologisnya

Metrobatam, Makassar – Pencabulan anak di bawah umur menimpa, HS (7), bocah perempuan yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD). Miris, korban adalah anak korban gempa Palu yang mengungsi ke Makassar.

Pencabulan oleh tiga pemuda itu diduga terjadi saat korban bermain di area pengungsian di kompleks Perumahan BTN Bumi Permata Sudiang (BPS), Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Selasa 16 Oktober 2018, sekitar Pukul 14.00 Wita.

Read More

Kapolsek Biringkanaya Kompol Nugraha mengatakan, dari tiga pelaku, satu di antaranya sudah diamankan. Pemuda berinisial IN itu ditangkap dan diamankan ke Polsek Biringkanaya Makassar.

Selanjutnya, kata Nugraha, penanganan perkara pencubalan anak ini telah dilimpahkan ke unit PPA Polrestabes Makassar. “Kita sudah dilimpahkan ke penyidik PPA Polrestabes,” kata Nugraha, Rabu (17/10).

Sementara itu dua pelaku lainnya dalam pengejaran tim gabungan personel Polsek Biringkanaya dan Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polrestabes Makasssar. “Anggota Polsek masih mengejar pelaku yang belum ditangkap. Infonya 3 orang pelaku. 2 orang masih dikejar,” terang Nugraha.

Dijelaskan Nugraha, tindakan pencabulan bermula saat pelaku melihat korban sedang bermain sendirian. Para pelaku menutup mulut dan menarik paksa korban ke kebun kosong. Ketiga pelaku lalu menyuruh korban menghisap kemaluan.

“Dalam aksinya tersebut pelaku IN bersama dengan dua emannya,” tutupnya.

Ini Kronologisnya

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar AKP Diaritz Felle mengatakan, kejadian pecabulan terjadi pada siang hari sekira Pukul 14.00 Wita. Saat itu pelaku-sebelumnya oleh polisi disebut tiga orang-berjalan mencari rumah temannya yang ada di kompleks tersebut. Namun tidak sengaja pelaku bertemu dengan korban di jalan kompleks.

“Kronologinya berawal dari pelaku inisial IN berusia 14 tahun menuju ke rumah temannya di perumahan ini. Kemudian melihat korban sedang bersama temannya yaitu laki-laki berinisial B,” kata Diariz saat merilis kasus ini, Rabu (17/10).

Selanjutnya kata Diaritz, pelaku meminta korban untuk mengantar dirinya mencari rumah temannya. Sementara teman korban laki-laki B disuruh pulang. “Jadi pelaku dan korban berjalan berdua bersama mencari rumah temannya,” ujarnya.

Dalam perjalanan, pelaku membawa korban ke sebuah rumah kosong. Pelaku kemudian menyuruh korban membuka celananya, namun ditolak. Pelaku kemudian memaksa dan melakukan pencabulan. Setelahnya, pelaku menjanjikan korban untuk mengantar korban pulang ke rumahnya.

“Setelah kejadian itu pelaku mengantar korban. Setelah itu bertemu dengan paman korban berinisial H. Kemudian korban memeluk pamannya kemudian menangis lalu menceritakan apa yang sudah terjadi,” ungkap Diaritz.

Sementara pelaku IN yang masih berada di sekitar lokasi langsung diamankan oleh paman korban bersama warga setempat. “Kemduian H bersama warga mengamankan pelaku dan menghubungi Polsek Biringkanaya. Kemudian tindakan yang sudah dilakukan memeriksa visum korban ke rumah sakit. Kemudian membuat LP kemudian berkordinasi dengan dinas sosial,” jelasnya.

Dikatakan Diaritz, status korban adalah pengungsi. Korban datang mengungsi ke Makassar bersama orang tuanya. Setelah itu orangtuanya kembali ke Palu.

“Korban dititip ke rumah tantenya. Orang tuanya pulang ke Palu. Jadi pelakunya tunggal. Dari hasil introgasi pelaku satu orang. Hasil visum sudah kelaur selaput darah dari korban,” ungkap Diaritz.

Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Andi Tenri Palallo mengatakan, sejauh ini pihaknya telah melakukan kerjasama dengan penyidik PPA Polrestabes Makassar.

“Jadi hasil kerja unit PPP Polres bersama tim reaksi cepat P2TP2A. Dan sudah dilakukan pemeriksaan panjang. Kami juga mendapat masalah sosial dari pelaku tunggal ini. Karena dia buta huruf,” kata Tenri.

Dijelaskan Tenri, pelaku sempat dipukuli oleh warga saat ditangkap. Dan sudah dapat perawatan RS Bhayangkara.

“Jadi dari semua fakta-fakta. Kami mendapat indentitas pelaku. Menurut penyidik ada kendala, karena tadinya ini didapat saat mabuk lem. Awalnya dia dikira korban pengeroyokan. Ternyata dia adalah pelaku pencabulan,” ungkap Tenri.

Sementara korban, berdasarkan hasil visum mengalami robek pada selaput darah.

“Hasil visum pencabulan sudah jelas ada robek. Pelaku ini nanti kita lihat. Ternyata anak ini dalam pengaruh lem. Sejauh itu hasil diskusi kami dengan unit PPA pelaku tinggal di BTN Pepabri,” ungkapnya. (mb/okezone)

Related posts