Kecelakaan Lion Air PK-LQP, KNKT Minta Boeing Ambil Tindakan

Metrobatam, Jakarta – Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono meminta The National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat dan produsen pesawat Boeing mengambil tindakan lebih lanjut terkait kecelakaan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610. Tujuannya, agar kecelakaan serupa pada pesawat Boeing tak terulang di masa mendatang.

“KNKT minta kepada NTSB dan Boeing untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang,” kata Soerjanto di Kantor KNKT, Jakarta Pusat Senin (5/11), seperti disiarkan CNN Indonesia TV.

Read More

Soerjanto meminta demikian sebab terdapat 200 unit pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 yang digunakan maskapai-maskapai lain di dunia. Diketahui Boeng 737 MAX 8 ini merupakan keluaran terbaru dengan mengusung beberapa kecanggihan teknologi dan desain yang lebih up to date dari seri lama.

Ia menegaskan KNKT saat ini tengah menyelidiki dugaan penyebab Lion Air PK-LQP celaka. Penyelidikan dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap pilot-pilot yang pernah menerbangkan Lion Air PK-LQP maupun penelusuran data-data perbaikan yang dilakukan oleh teknisi selama ini.

“Jadi kami sedang secara mendetail mempelajari baik interview dari penerbang-penerbang yang menerbangkan sebelumnya maupun data-data perbaikan yang telah dilakukan oleh teknisi-teknisi dari maskapai tersebut,” ujarnya.

Soerjanto mengatakan, penyelidikan ini dilakukan mengingat dari hasil unduhan Fligh Data Recorder (FDR), terekam Lion Air PK-LQP sudah terbang sebanyak 19 kali, di mana dalam empat penerbangan terakhir terdapat kerusakan pada airspeed indicator atau penunjuk kecepatan.

Meski demikian Soerjanto tidak ada menjelaskan lebih lanjut seberapa signifikan kerusakan airspeed indicator itu terhadap kecelakaan Lion Air PK-LQP. Pun demikian, apakah kerusakan itu menjadi penyebab utama pesawat yang mengangkut 189 orang itu mengalami kecelakaan, ia juga tak menjelaskan.

Sebelumnya Soerjanto menduga Lion Air PK-LQP meledak setelah menyentuh perairan di Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Ia juga menyebut mesin pesawat sempat menyala di dalam air dengan posisi pesawat masih dalam keadaan utuh sesaat setelah jatuh ke dalam perairan Karawang.

Hal itu ditandai dengan temuan salah satu mesin oleh tim pencarian dan evakuasi pesawat yang terbang dari Jakarta menuju Pangkalpinang pada Senin 29 Oktober 2018 pekan lalu tersebut.

Menurut Soerjanto, mesin pesawat juga sedang dalam kecepatan tinggi saat terjun dari udara menuju perairan. Akibatnya, saat sudah berada di dalam air, mesin pesawat sempat masih dalam keadaan menyala.

Seperti diketahui, pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 dipastikan jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat setelah dilaporkan hilang kontak pada pukul 06.33 WIB atau sekitar 13 usai lepas landas dari Bandara Soetta, Jakarta menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Saat kecelakaan, pesawat tipe Boeing 737 MAX 8 itu mengangkut 189 orang, terdiri atas 178 penumpang dewasa, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin.

Selidiki Kerusakan 4 Flight Terakhir

KNKT juga akan melakukan investigasi lebih lanjut terkait penyebab kerusakan pesawat Lion Air PK-LQP dalam empat penerbangan terakhirnya. Kerusakan terjadi pada airspeed indicator atau penunjuk kecepatan.

Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan Nurcahyo Utomo mengatakan, kerusakan airspeed indicator itu didapat setelah pihaknya mengunduh data dari perekam data penerbangan atau Flight Data Recorder (FDR) milik Lion Air JT610 yang sudah ditemukan.

Lion Air PK-LQP sendiri sebelum jatuh saat terbang menuju Pangkalpinang dari Jakarta, diketahui terbang dari Denpasar menuju Jakarta pada malam sebelumnya.

“Memang kita sudah akui penerbangan dari Denpasar ke Jakarta ada masalah teknis. Ternyata begitu kita buka black boxnya memang yang dimaksud teknis tadi adalah masalah airspeed atau kecepatan dari pesawat,” ucap Nurcahyo di Kantor KNKT, Jakarta, Senin (5/11) seperti disiarkan CNN Indonesia TV.

“Ternyata dari data black box itu, dua (penerbangan) sebelum Denpasar pun juga mengalami (kerusakan airspeed indicator),” tambah dia.

Selain penyebab kerusakan airspeed indicator, Nurcahyo menambahkan, KNKT juga akan meneliti lebih jauh bagaimana pilot menerbangkan PK-LQP selama mengalami kondisi airspeed indicator bermasalah.

“Kita akan teliti lebih lanjut apa yang menjadi penyebab kerusakan, bagaimana perbaikan yang sudah dilakukan, bagaimana pilot menerbangkan selama pesawat mengalami kerusakan ini,” jelas Nurcahyo.

Untuk itu, lanjut Nurcahyo, saat ini data-data dari FDR sudah dikumpulkan pihaknya. Terdapat 1.790 paramater pada FDR yang dijadikan bahan penyelidikan. Data-data itu akan dikaji dan dianalisis lebih lanjut.

“Itu pentingnya black box, kalau tanpa black box kita nggak bisa membuktikan kalau ada masalah. Jadi sebelum ada data faktual, KNKT tidak pernah menduga-duga, kami hanya bisa berbicara berdasarkan fakta,” kata dia.

Meski demikian tidak ada penjelasan lebih lanjut seberapa signifikan kerusakan airspeed indicator itu terhadap kecelakaan Lion Air PK-LQP. Pun demikian, apakah kerusakan itu menjadi penyebab utama pesawat yang mengangkut 189 orang itu mengalami kecelakaan, juga tidak dijelaskan.

Seperti diketahui, pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 dilaporkan hilang kontak pada pukul 06.33 WIB atau sekitar 13 menit usai lepas landas dari Bandara Soetta, Jakarta, Senin (29/10). Pesawat itu tak pernah sampai di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung usai dipastikan jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Saat kecelakaan, pesawat tipe Boeing 737 MAX 8 itu mengangkut 189 orang, terdiri atas 178 penumpang dewasa, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin. (mb/cnn indonesia)

Related posts