Tolong! Ini Suara Pendidik di Pelosok Natuna

Metrobatam, Natuna – Berada nun jauh dari pusat pemerintahan dan kota tak menjadikan kehidupan di pelosok Natuna, Sabang Mawang, redup. Tawa ceria anak-anak SDN 003 jadi buktinya.

Namun di balik keriangan anak-anak berseragam putih merah ini ada guru-guru yang setiap hari memikirkan buku pelajaran. Ya, wilayah yang terletak 1 jam terpisah laut dari Kota Kabupaten ini masih sulit mendapatkan buku.

Read More

“Dari pemesanan itu sampai datang 3 bulan terlambat. Kendalanya nggak tahu padahal kita sudah siapkan tapi buku belum datang,” kata Kepala Sekolah SDN 003 Sabanga Mawang kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Alhasil, para guru dipaksa kreatif agar anak-anak tetap bisa belajar dan mempunyai buku pegangan. “Kita nggak bisa nunggu dan inisiatif sendiri. Karena sudah ada internet mereka cari di YouTube yang sesuai dari kurikulum. Ada yang difotokopi per lembar dan secara bertahap,” ucapnya lagi.

Dia menilai usaha para guru tak lain karena termotivasi semangat anak-anak yang giat belajar. Kendati demikian, dia bersyukur di balik keterbatasan ini kreativitas dan daya juang para guru lebih terpacu.

“Yang terjadi ya inisiatif gurunya, ada hikmahnya. Namun guru jadi tidak siap pakai, saat bekerja kadang bingung cari sana sini (buku),” tukas dia.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti mengatakan buku pelajaran sekolah masuk ke dalam anggaran dari sekolah. Dia membenarkan bahwa keterlambatan buku datangnya dari masalah transportasi. Kapal Pelni yang diandalkan sebagai sarana transportasi pengantaran buku pelajaran dari pusat ke Natuna harus menempuh trayek yang panjang.

“Kita gunakan pengiriman lain terlalu mahal biayanya tidak cukup cost dari dana BOS dan BROS itu, karena transportasi laut murah. Menggunakan pesawat nggak terjangkau bagi sekolah-sekolah,” tegasnya.

Dia pun kian risau karena berembus kabar Pelni berhenti beroperasi. “Pemerintah lihat dong ke kabuaten ke Natuna yang spt ini. Kapal Pelni cepat pulih agar bisa lancar kembali ini jadi kendala perekonomian. Ada kapal sabuk Nusantara tapi rutenya panjang itu yang jadi kendala transportasi karena daerahnya pulau-pulau,” tuturnya lagi.

Beruntung, potret pendidikan di pelosok tidak semakin suram berkat hadirinya listrik 24 jam di Sabang Mawang. Anak-anak bisa belajar kapanpun dan di manapun dengan penerangan yang memadai.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN yang pada 2019 ini bulan Agustus kemarin sudah 100 persen untuk di desa-desa. Dibantu juga PLN anak-anak kita sekolah sudah bebas dari gelap semua bisa menggunakan listrik, belajar sudah tidak ada masalah lagi,” tandasnya.

Sementara itu PLN membuktikan komitmennya untuk menerangi pelosok Indonesia, termasuk Natuna. Apalagi sudah ada 11 pulau di Natuna yang pasokan listriknya ditambah sehingga masa depan pendidikan di Natuna bisa lebih terang.

“Listrik PLN akan menumbuhkan semangat belajar karena PLN hadir untuk memberikan cahya penerangan di malam hari sehingga murid dari SD sampai SMA itu sudah tidak lagi kesulitan belajar di malam hari. Saat mengaji di waktu malam hari atau jelang salat subuh masih tetap ada cahaya listrik. Kami optimis dan yakin anak-anak kita akan menjadi anak yang cerdas berkualitas dan tidak ketinggalan dengan daerah lain karena semangat belajarnya, semangat mengajinya semakin meningkat. Ini menjadi modal yang kuat bagi bangsa Indonesia yang Insyaallah hadir dari pulau terluar,” jelas kata Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah. (mb/detik)

Related posts