Din Nilai Kasus Sukmawati Bisa Selesai Lewat Minta Maaf

Metrobatam, Jakarta – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menganggap polemik mengenai pernyataan Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama RI Sukarno bisa diselesaikan dengan dua cara. Pertama, melalui permintaan maaf atau yang kedua, lewat proses hukum.

Untuk kasus sejenis ini, ia memilih menyelesaikan dengan cara pertama yakni pihak yang bermasalah segera mengajukan permohonan maaf.

Bacaan Lainnya

“Kalau ditanya preferensi pribadi saya ya, [kasus-kasus penghinaan atau penistaan] gitu-gitu banyak sekali. Harus disadari lah, itu kesalahan, mau nggak minta maaf? Nah kalau sudah minta maaf, agama selalu mendorong memberi maaf,” tutur Din ketika ditemui di ruangannya di Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Rabu (27/11) malam.

Sedangkan proses hukum memang bisa dan sah pula ditempuh oleh pihak yang keberatan. Mengingat Indonesia negara hukum.

“Karena ini negara hukum. Dan, tegakkan itu kepada siapa saja, jangan lembaga penegak hukum tak berkeadilan. Itu akan merusak peradilan,” ucap Din.

 

Hanya saja menurut dia, upaya hukum hanya bakal menghabiskan energi. Sementara jumlah kasus serupa juga sangat banyak.

“Kalau kita jalur hukum, ya pasti panjang. Bangsa ini akan kehilangan energi. Kasus-kasus gitu kan puluhan ya, baik oleh Islam terhadap Islam, baik Islam terhadap negara lain,” ungkap dia lagi.

Kendati begitu ia mengakui Dewan Pertimbangan MUI sendiri belum membahas kasus Sukmawati ini secara khusus. “Kalau Dewan Pimpinan, saya tidak tahu persis, harus dicek,” sambung Din.

Kasus Sukmawati kini tengah diproses hukum di Polda Metro Jaya. Adik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ini dilaporkan dalam kasus dugaan penodaan agama terkait pernyataannya membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama RI Sukarno.

Dalam potongan video viral yang beredar, Sukmawati berkata, “Mana lebih bagus Pancasila atau Alquran? Sekarang saya mau tanya nih semua. Yang berjuang di Abad 20, itu nabi yang mulia Muhammad apa Insinyur Soekarno untuk kemerdekaan?”.

Ketua Umum PNI Marhaenisme ini menyebut video yang tersebar di media sosial telah diedit, bukan sepenuhnya seperti yang dia sampaikan.

“Saya tidak membandingkan, dan tidak ada kata ‘jasa’,” ucap Sukmawati, kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon pada Sabtu (16/11).

Sukmawati menjelaskan video itu merekam momen ketika ia sedang berbicara di forum anak muda yang mengusung tema ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’. (mb/cnn indonesia)

Pos terkait