Nasib Natuna dan Sikap Lunak Prabowo yang Lebih TNI dari TNI

Metrobatam, Jakarta – Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto dinilai bersikap lunak dalam insiden kapal China yang wara-wiri di perairan Natuna. Prabowo mengatakan pemerintah akan menempuh jalan yang baik.

“Saya kira ada solusi baik. Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimanapun China negara sahabat,” ujar Prabowo usai rapat di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Jakarta, Jumat (3/1).

Bacaan Lainnya

Sikap dan ucapan Prabowo berkebalikan dengan sikap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Retno telah memanggil Dubes China di Jakarta untuk memberikan nota protes terhadap klaim Natuna.

Retno menyebut kapal-kapal nelayan China menerobos Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang telah diakui United Nations Convetion on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982.

Sikap Prabowo soal Natuna juga bertolak belakang dengan kegarangannya saat Pilpres 2019. Dalam Debat Capres Pilpres 2019 soal pertahanan, Prabowo berkali-kali menyebut militer Indonesia tak dikelola dengan baik oleh pemerintahan Joko Widodo.

Prabowo bahkan saat itu lantang menyatakan bahwa dirinya lebih TNI dari banyak TNI.

Menurutnya, kekuatan militer Indonesia rapuh. Sehingga Indonesia sering direndahkan oleh negara lain dalam persoalan internasional.

Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta menilai Prabowo melunak karena sadar kekuatan militer Indonesia tak sebanding dengan China.

Situs Globalfirepower.com mencatat kekuatan militer Indonesia berada di peringkat 16 dunia. Indonesia memiliki personel militer sekitar 800 ribu orang. Terdiri dari 400 ribu personel aktif dan 400 ribu personel cadangan. Namun demikian, ada 108 juta penduduk yang siap perang jika keadaan mengharuskan.

Sementara China menjadi negara terkuat ketiga dengan memiliki 2,6 juta personel militer yang terdiri dari 2,1 juta aktif dan 510 ribu personel cadangan. Sebanyak 621 juta penduduknya siap perang jika kondisi mengharuskan. Belum lagi membandingkan alutsista kedua negara.

“Pak Prabowo lihat detail kekuatan angkatan bersenjata kita dengan kekuatan China. Perbandingannya sangat jomplang, mungkin lihat itu Pak Prabowo bersikap lebih lunak,” kata Stanislaus kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/1).

Meski begitu, Stanislaus berpendapat seharusnya Prabowo bisa bersikap lebih tegas untuk menunjukkan posisi Indonesia. Ia menilai Prabowo tak perlu mengerahkan kemampuan militer untuk menyatakan sikap tersebut.

“Saya kira tetap harus tegas bahwa ini daerah kita. Ketegasan bisa kita tunjukkan dengan bertemu bilateral, kita sampaikan sikap kita secara tegas,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Indonesia Popular Survey Silvanus Alvin menilai sikap lembek Prabowo bisa punya dua dampak bahaya. Pertama, sikap ini bisa menggerus citra politik Prabowo sebagai orang yang paling cinta Tanah Air.

“Publik bisa mengartikan Pak Prabowo selama ini gimik saja atau hanya janji manis saja, janji manis kampanye. Dia selalu tegas, ‘Mari kita rebut bangsa kita dari antek asing, dan mari pertahankan kedaulatan kita.’ Sekarang buktinya… ,” kata Alvin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (6/1).

Dampak kedua, menurut Alvin, sikap Prabowo soal Natuna akan merugikan Indonesia. Sebab kedaulatan Indonesia sedang dalam ujian.

Ditambah lagi, Kementerian Pertahanan China sudah tegas mengklaim kepemilikan atas Natuna. Sikap Prabowo, ucap Alvin, hanya akan membuat Indonesia terlihat lemah di mata internasional.

Dosen Universitas Bunda Mulia itu berpendapat Prabowo setidaknya harus menyatakan sikap tegas lewat media. Hal itu diperlukan untuk melawan narasi dari pemerintah China yang sudah lebih dulu dikabarkan media internasional.

“Beliau harus terjun langsung ke Natuna, bawa bersama dengan armada laut kita, tunjukkan pesan bahwa militer kita mampu. Mungkin bisa dikemas dengan latihan militer,” ucap Alvin. (mb/cnn indonesia)

Pos terkait