Survei LSI: Dibanding AS, China Lebih Berpengaruh Bagi RI

Metrobatam, Jakarta – Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyatakan warga Indonesia menilai China lebih berpengaruh dari Amerika Serikat. Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan menuturkan pengaruh China terhadap Indonesia semakin besar selama sepuluh tahun terakhir.

“RRC dinilai lebih besar pengaruhnya terhadap Indonesia di banding AS,” ujar Djayadi di Hotel Erian, Jakarta, Minggu (12/1).

Read More

Djayadi menyampaikan temuan itu berdasarkan hasil survei nasional LSI pada tanggal 10-15 Juli 2019 terhadap 1.540 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia dengan metode stratified multistage random sampling.

Margin error dalam survei tersebut diklaim kurang lebih 2,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Djayadi menuturkan warga Indonesia yang menilai China paling berpengaruh sangat besar atau cukup besar sebanyak 66 persen. Sementara yang menilai AS berpengaruh hanya 49 persen.

Meski paling berpengaruh, Djayadi menyebut pengaruh China terhadap Indonesia dinilai responden lebih negatif dibanding AS. Berdasarkan survei, 36 persen responden menilai China berpengaruh buruk terhadap Indonesia. Persentase itu meningkat 20 persen jika di banding tahun 2016.

“Sementara terhadap AS, penilaian masyarakat cenderung stabil. Yang menilai positif (40 persen) pengaruh AS terhadap Indonesia lebih banyak di banding yang menilai negatif (30 persen),” ujarnya.

Lebih lanjut, Djayadi menyampaikan sikap pendukung pasangan capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cenderung lebih negatif terhadap pengaruh AS dan China terhadap Indonesia dibanding pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sebanyak 43 persen menilai AS merugikan dan 52 persen menilai China merugikan.

Penilaian negatif pendukung Prabowo-Sandri terhadap AS dan China juga sejalan dengan partai pendukungnya pada Pilpres 2019, yakni Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat.

“Dengan beberapa pengecualian, pola yang serupa juga ditemukan dalam penilaian masyarakat terhadap negara yang paling berpengaruh di Asia untuk masa sepuluh tahun mendatang,” ujar Djayadi.

Di sisi lain, Djayadi menyebut ada gejala partisanship atau pembelahan politik dalam kecenderungan penilaian masyarakat terhadap negara-negara paling berpengaruh di Asia. Persepsi masyarakat, kata dia, juga cenderung berhubungan dengan penilaian mereka terhadap keadaan ekonomi dan kinerja pemerintah.

Dia berkata semakin negatif penilaian masyarakat terhadap ekonomi dan kinerja pemerintah maka makin banyak yang menilai China sebagai negara paling berpengaruh.

“Sebaliknya, makin positif penilaian masyarakat terhadap ekonomi dan kinerja pemerintah, makin banyak yang menilai AS sebagai negara paling berpengaruh,” ujarnya.

Lebih dari itu, Djayadi berkata salah satu faktor yang dapat menjelaskan tingginya sentimen negatif terhadap China, terutama di kalangan pendukung Prabowo-Sandi adalah maraknya hoaks keterkaitan Jokowi sebagai kaki tangan China.

Berdasarkan survei, 29 persen pendukung Prabowo-Sandi setuju Jokowi kaki tangan China. Adapun PKS menjadi partai paling setuju Jokowi sebagai kaki tangan China dengan persentase sebesar 40 persen di susul PAN (25 persen), Gerindra (23 persen), dan Demokrat (20 persen). (mb/cnn indonesia)

Related posts