Peringatan Yusril ke Pemerintah: Mahkamah Konstitusi Bisa Batalkan UU Ciptaker

Yusril Ihza Mahendra mengatakan jika prosedur pembentukan UU Ciptaker bertentangan dengan UU No.12 Tahun 2011, maka Omnibus Law itu bisa dibatalkan MK. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Jakarta (Metrobatam.com) – Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra mengatakan Mahkamah Konstitusi dapat membatalkan Undang-undang Cipta Kerja secara keseluruhan.

Hal itu jika prosedur pembentukan Omnibus Law bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Bacaan Lainnya

Dalam hal ini, ia mengingatkan kepada pemerintah dan DPR harus hati-hati serta argumentatif mempertahankan prosedur dalam proses pembentukan UU Ciptaker yang menggunakan cara omnibus itu.

“Saya katakan harus hati-hati dan benar-benar argumentatif karena jika prosedur pembentukan bertentangan dengan ketentuan dalam UU Nomor 12 Tahun 2011, maka MK bisa membatalkan UU Ciptaker ini secara keseluruhan, tanpa mempersoalkan lagi apakah materi yang diatur oleh undang-undang ini bertentangan atau tidak dengan norma-norma UUD 1945,” kata Yusril dalam keterangan tertulis, Rabu (4/11).

Ia menjelaskan dalam proses pembentukan undang-undang menggunakan metode omnibus, sangat mungkin akan mengubah undang-undang yang ada, disamping memberikan pengaturan baru terhadap sesuatu masalah.

Jika menggunakan landasan pemikiran yang kaku, kata dia, maka dengan mudah dapat dikatakan prosedur perubahan terhadap undang melalui pembentukan omnibus law adalah tidak sejalan dengan UU Nomor 12 Tahun 2011.

“Tentu akan ada pandangan yang sebaliknya. Kita ingin menyimak seperti apa argumentasi pemerintah dan DPR di MK nanti dalam menjawab persoalan prosedur ini,” ucap dia.

Selain uji formil terkait prosedur pembentukan UU Ciptaker yang menerapkan pola Omnibus, Yusril juga menyoroti soal uji materiil.

Dia mengatakan mengingat cakupan masalah dalam UU Ciptaker yang begitu luas, maka setiap pemohon akan fokus terhadap pasal-pasal yang menyangkut kepentingan mereka.

“Kita tentu ingin menyimak apa argumen para Pemohon dan apa pula argumen yang disampaikan Pemerintah dan DPR dalam menanggapi permohonan uji formil dan materil tersebut,” ucap dia.

Sejak diteken presiden RI Joko Widodo pad hari Senin (2/11) lalu, elemen pekerja atau buruh langsung mendaftarkan gugatan ke MK.

“Sudah, sudah didaftarkan,” kata Presiden KSPI Said Iqbal saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/11).

Bahkan sebelum UU Ciptaker diteken Jokowi, juga telah ada tiga gugatan lainnya terhadap UU ini yang didaftarkan ke MK. Penggugat di antaranya merupakan pelajar SMK, mahasiswa dan karyawan kontrak.

(CNNIndonesia)

Pos terkait