BUKITTINGGI, METROBATAM.COM – Forum Cendikia dan Akademisi IASMA Birugo yang didukung oleh Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi secara resmi menyerahkan Kajian Akademis Pembentukan Daerah Khusus Bukittinggi kepada Pemerintah Kota Bukittinggi. Penyerahan kajian tersebut merupakan bentuk kontribusi pemikiran para cendekiawan dan akademisi dalam mendukung pembangunan daerah serta memperkuat identitas kebangsaan Indonesia.Sabtu, 30/05/26.
Kajian akademis tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan Alek Gadang Peringatan 170 Tahun Kweekschool dan Temu Alumni SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi yang berlangsung meriah dan dihadiri berbagai unsur masyarakat, alumni, tokoh pendidikan, serta jajaran pemerintah daerah.
Tim penyusun kajian yang terdiri dari para akademisi dan cendekiawan lintas disiplin ilmu menyimpulkan bahwa Bukittinggi memiliki landasan historis, konstitusional, sosial-budaya, dan fungsional yang kuat untuk dipertimbangkan memperoleh status sebagai Daerah Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa Bukittinggi bukan sekadar kota wisata. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat sejarah bangsa ini memiliki peran penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Bukittinggi menjadi tempat lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948 yang menjaga keberlangsungan pemerintahan Indonesia ketika ibu kota negara saat itu jatuh ke tangan Belanda.
Forum Cendikia dan Akademisi IASMA Birugo menjelaskan bahwa usulan Daerah Khusus Bukittinggi bukanlah upaya pemekaran wilayah maupun pembentukan provinsi baru. Usulan tersebut bertujuan memberikan penguatan kewenangan tertentu agar Bukittinggi mampu menjalankan perannya sebagai kota perjuangan, pusat budaya Minangkabau, kota warisan sejarah nasional, serta kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Kajian akademis tersebut secara resmi diserahkan oleh Koordinator Tim, Prof. Rumainur Malin Batuah, S.H., M.H., Ph.D., bersama Ketua IASMA 2 Birugo M. Fadli dan Ade Rizki selaku perwakilan alumni yang juga merupakan Anggota DPR RI. Dokumen kajian diterima langsung oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Azis, yang sekaligus berkesempatan membuka acara tersebut.
Dalam pemaparannya, Forum Cendikia dan Akademisi IASMA Birugo menyoroti posisi Bukittinggi dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia. Disebutkan bahwa Indonesia memiliki empat kota yang pernah atau menjadi ibu kota negara, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bukittinggi, dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun demikian, menurut forum tersebut, Bukittinggi hingga kini belum memperoleh bentuk pengakuan khusus yang setara dengan kota-kota lainnya yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah perjalanan bangsa.
Forum menegaskan bahwa pengakuan terhadap kekhususan Bukittinggi merupakan bentuk penghormatan negara terhadap daerah yang telah memberikan kontribusi nyata dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa-masa paling kritis dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.
Selain memiliki legitimasi sejarah yang kuat, Bukittinggi saat ini juga menjalankan fungsi strategis sebagai pusat perdagangan, pendidikan, budaya, jasa, dan pariwisata di Sumatera Barat. Peran regional yang besar tersebut dinilai membutuhkan tata kelola yang lebih adaptif agar mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan di masa depan.
Status Daerah Khusus diharapkan dapat menjadi instrumen untuk memperkuat pendidikan sejarah dan kebangsaan, melestarikan warisan budaya Minangkabau, mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan, memperkuat pengelolaan kawasan heritage nasional, serta meningkatkan kualitas tata kelola perkotaan dan lingkungan hidup.
Melalui kajian ini, Forum Cendikia dan Akademisi IASMA Birugo mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, generasi muda, hingga perantau Minangkabau untuk membuka ruang dialog yang konstruktif mengenai masa depan Kota Bukittinggi.
Forum menegaskan bahwa usulan Daerah Khusus Bukittinggi bukan hanya berbicara mengenai sejarah masa lalu, melainkan menjadikan sejarah sebagai fondasi pembangunan masa depan. Bukittinggi yang telah menjadi bagian penting dalam lahir dan bertahannya Republik Indonesia dinilai layak memperoleh perhatian yang lebih proporsional dalam kerangka pembangunan nasional.
Sebagai penutup, Forum Cendikia dan Akademisi IASMA Birugo menyampaikan pesan yang menjadi inti dari kajian tersebut, yakni bahwa “Bukittinggi bukan hanya kota yang mencatat sejarah. Bukittinggi adalah kota yang pernah menyelamatkan sejarah Republik Indonesia.”
Adapun narahubung Forum Cendikia dan Akademisi IASMA Birugo Bukittinggi terdiri dari Prof. Rumainur Malin Batuah, S.H., M.H., Ph.D., Willson Gustiawan, S.E., M.Si., Ph.D. Tuanku Ginda Ali, Dr. Ir. Dedi Yusmen, MBA, MESy. Dt. Rajo Penghulu Nan Tinggi, serta Fidel Bustami, M.Biomed.
Mereka berharap kajian akademis tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi berbagai pihak dalam merumuskan masa depan Bukittinggi sebagai kota sejarah, budaya, dan perjuangan bangsa Indonesia.
(Basa)














