BUKITTINGGI, METROBATAM.COM – Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Kota Bukittinggi tidak hanya menjadi ajang refleksi terhadap nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga menjadi momentum yang menghadirkan optimisme baru tentang lahirnya generasi pemimpin masa depan dari kalangan organisasi Islam yang selama ini aktif membina umat dan masyarakat.
Semangat tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertema “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menghadapi Tantangan Zaman” yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Kota Bukittinggi pada Senin, 1 Juni 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh muda, aktivis organisasi kemasyarakatan, akademisi, mahasiswa, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap masa depan bangsa dan daerah.
Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber dan peserta menyampaikan berbagai gagasan mengenai pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks. Diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan yang mencakup isu kebangsaan, keumatan, pendidikan, hukum, serta pembangunan daerah.
Salah satu sosok yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut adalah Dr (c). Riyan Permana Putra, SH, MH, seorang praktisi hukum muda yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan advokasi masyarakat, pendidikan hukum, kegiatan sosial, dan organisasi kemasyarakatan di Sumatera Barat. Sebelumnya, Riyan juga pernah aktif dalam proses kaderisasi dan perjuangan intelektual di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Kehadiran Riyan dalam forum tersebut dinilai menjadi simbol munculnya generasi muda yang lahir dari proses panjang pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah peserta diskusi menilai bahwa figur pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan intelektual, tetapi juga harus memiliki pengalaman langsung dalam memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah dan dinamika kehidupan sosial, kebutuhan akan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat semakin dirasakan. Riyan dinilai memiliki kombinasi antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta kepedulian sosial yang terbangun melalui aktivitas pendampingan masyarakat dalam berbagai persoalan hukum maupun sosial kemasyarakatan.
“Pemimpin masa depan harus lahir dari pengabdian, bukan sekadar ambisi kekuasaan. Ia harus memahami denyut kehidupan masyarakat, mengerti hukum, memiliki kepedulian sosial, dan tetap berpijak pada nilai-nilai agama serta Pancasila,” ungkap salah seorang peserta diskusi yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Sebagai putra Minangkabau, Riyan juga dikenal konsisten mengangkat filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” sebagai landasan kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, nilai-nilai Islam dan Pancasila memiliki hubungan yang saling menguatkan dalam membangun kehidupan berbangsa, menjaga persatuan, serta menciptakan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
Dalam berbagai kesempatan, Riyan juga kerap mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam menghadirkan gagasan, inovasi, dan integritas guna menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini maupun di masa yang akan datang.
Forum diskusi yang dihadiri berbagai tokoh organisasi Islam tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Bukittinggi memiliki banyak kader muda potensial yang lahir dari proses kaderisasi organisasi. Organisasi-organisasi Islam dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai keagamaan, kebangsaan, serta semangat persatuan sebagaimana terkandung dalam Pancasila.
Bagi sebagian peserta, munculnya figur seperti Riyan Permana Putra menjadi pertanda bahwa regenerasi kepemimpinan di Bukittinggi sedang berlangsung. Di tengah harapan masyarakat akan hadirnya pemimpin yang memahami hukum, dekat dengan rakyat, memiliki jaringan luas, dan mampu merangkul berbagai elemen masyarakat, nama Riyan mulai diperbincangkan sebagai salah satu representasi generasi pemimpin masa depan yang lahir dari proses pengabdian.
Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 akhirnya tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah dan jasa para pendiri bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masa depan daerah akan ditentukan oleh kualitas generasi penerus yang memiliki integritas, kapasitas, serta keberpihakan kepada masyarakat.
Dari forum yang digelar oleh organisasi Islam di Bukittinggi tersebut, publik menangkap pesan optimisme bahwa harapan akan lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, dan berjiwa pengabdian terus tumbuh untuk membawa Bukittinggi menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing.
(Basa)














