TANJUNGPINANG, Metrobatam.com – Ketenangan dunia pendidikan di Kota Tanjungpinang terusik. Sebuah dugaan perbuatan asusila yang melibatkan oknum pelajar di lingkungan sekolah mendadak viral dan menjadi buah bibir masyarakat. Bukan hanya membuat geger, peristiwa ini dinilai menjadi tamparan keras bagi sistem pengawasan pendidikan di daerah.
Sekolah yang selama ini digadang-gadang sebagai benteng moral, tempat anak-anak ditempa ilmu, karakter dan etika, justru diduga menjadi lokasi terjadinya perilaku menyimpang. Hal inilah yang membuat publik bereaksi keras. Kekecewaan, kekhawatiran, dan kemarahan bercampur menjadi satu.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, dugaan perbuatan tidak pantas itu dilakukan oleh sekelompok pelajar yang masih di bawah umur. Fakta bahwa pelakunya adalah anak didik sendiri membuat miris banyak pihak. Bagaimana mungkin perilaku yang jauh dari norma kesusilaan bisa terjadi di area yang seharusnya paling diawasi?
Tak butuh waktu lama, kritik pedas pun mengalir deras. Masyarakat menilai ada celah besar dalam pengawasan di lingkungan sekolah. Di satu sisi pemerintah daerah dan dinas terkait gencar menggaungkan program peningkatan mutu pendidikan, penguatan karakter, dan sekolah ramah anak. Namun di sisi lain, pengawasan di lapangan dinilai belum berjalan maksimal.
“Jargon sekolah berkarakter itu bagus, tapi implementasinya di lapangan seperti apa? Kejadian ini bukti kalau pengawasan masih lemah. Anak-anak bisa leluasa melakukan hal yang tidak pantas di sekolah. Ini bahaya,” keluh seorang orang tua siswa di Tanjungpinang yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Warga lainnya menambahkan, di era digital seperti sekarang, tantangan pengawasan jauh lebih berat. Akses gawai tanpa batas, pergaulan bebas, hingga minimnya edukasi kesehatan reproduksi yang benar membuat remaja rentan terjerumus.
Kasus ini sejatinya menjadi cermin retaknya dua pilar utama penjaga moral anak.
Pertama, peran sekolah. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar nilai dan ranking. Fungsi pengawasan melekat harus diperkuat. Mulai dari pengawasan guru piket, penjagaan area-area sepi di sekolah seperti toilet, gudang, ruang kosong, hingga belakang sekolah, penerapan jam malam sekolah, dan kedisiplinan yang konsisten. Termasuk pentingnya bimbingan konseling yang aktif, bukan hanya formalitas.
Kedua, peran orang tua. Banyak orang tua yang abai karena kesibukan kerja. Padahal, pendidikan pertama dan utama ada di rumah. Kontrol terhadap pergaulan anak, dengan siapa ia berteman, apa yang ia tonton di handphone, jam berapa ia pulang, menjadi kunci yang tidak bisa ditawar. Tanpa sinergi sekolah dan orang tua, mustahil membentuk generasi yang berakhlak.
Anak adalah aset masa depan bangsa. Jika sejak di bangku sekolah mental dan moralnya sudah terkontaminasi perilaku menyimpang, lalu apa yang bisa diharapkan untuk masa depan Tanjungpinang?
Guna memastikan langkah konkret apa yang akan diambil, tim media mencoba mengkonfirmasi langsung ke Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang. Namun hingga berita ini dinaikkan, Kepala Dinas Pendidikan belum berhasil ditemui untuk memberikan keterangan resmi.
Masyarakat kini tidak hanya menunggu klarifikasi, tetapi mendesak adanya evaluasi total dan langkah pembinaan yang menyentuh akar persoalan. Bukan dengan cara menghakimi anak secara berlebihan, karena mereka masih di bawah umur dan butuh pembinaan, melainkan dengan memperbaiki sistem.
Mulai dari razia rutin, edukasi bahaya pergaulan bebas, penyuluhan kesehatan reproduksi yang dikemas secara edukatif, hingga penguatan peran guru BK dan kerja sama dengan psikolog anak.
Kasus di Tanjungpinang ini harus menjadi pelajaran terakhir. Jangan sampai karena satu kelalaian, marwah pendidikan dan masa depan anak-anak kita menjadi taruhannya.
Redaksi sengaja tidak menyebutkan identitas sekolah dan pelajar yang terlibat demi melindungi hak anak sesuai UU Perlindungan Anak dan Kode Etik Jurnalistik.
(Budi/yata)














