METROBATAM.COM, BATAM – Suasana sebuah kafe di kawasan Batam Centre, Sabtu (23/8/2026) petang, awalnya berlangsung seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, sampai sebuah informasi dari seorang teman mengubah suasana menjadi pertemuan yang cukup berkesan.
Saat itu, saya duduk membelakangi sebuah meja yang ditempati beberapa orang. Saya bahkan belum mengetahui siapa mereka.
Tak lama kemudian, sobat saya, Andi Carlos, datang menghampiri.
“Bang, ada artis Malaysia di belakang,” katanya.
Saya hanya merespons seadanya karena masih sibuk dengan telepon seluler. Namun, beberapa saat kemudian Andi kembali menyebut nama artis Malaysia tersebut. Kali ini perhatian saya mulai tertuju.
“Betul artis Malaysia? Jangan-jangan salah. Coba cek Google,” kata saya.
Andi langsung memeriksa informasi melalui ponselnya. Setelah beberapa saat, ia menunjukkan layar teleponnya.
Ternyata benar. Sosok yang dimaksud adalah Poey Stings, penyanyi Malaysia yang cukup dikenal lewat lagu-lagu populer bersama grupnya, Sting.
“Kalau begitu, kita temui,” kata saya.
Dengan rasa penasaran, saya pun menghampiri meja tersebut. Untuk memastikan tidak salah orang, saya sedikit meninggikan suara.
“Bang Poey Stings, kan?”
Pria tersebut langsung mengangguk sambil memutar tangannya. Saya kemudian menghampiri, bersalaman, memperkenalkan diri serta media yang saya wakili.
“Kalian sedang rapat, berdiskusi atau santai? Bolehkah saya bergabung?” tanya saya dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan, tetapi cukup percaya diri.
“OK, ayo,” jawab Poey ramah sambil mempersilakan kami duduk.
Sejak saat itu, obrolan pun mengalir. Tidak ada suasana wawancara resmi. Kami berbincang santai bersama Poey, manajernya, dan dua rekannya.
Manggung di Batam dan Perjalanan Bermusik
Saya kemudian menanyakan aktivitas Poey selama berada di Batam.
Ia bercerita, malam sebelumnya baru saja tampil di kawasan Batam Centre. Selama beberapa hari berada di Batam, ia memiliki sejumlah agenda pertunjukan di beberapa lokasi.
“Malam ini tampil di Pulau Buluh,” ujarnya.
Pelantun lagu “Adakah Kau Setia” tersebut mengaku cukup sering tampil di Batam, termasuk dalam berbagai kegiatan resmi Pemerintah Kota Batam.
Ia bahkan menyebut telah tampil di Batam sejak era kepemimpinan beberapa wali kota.
“Saya tampil mulai zaman Wali Kota Datok Nyat Kadir, Pak Dahlan, Pak Rudi, sampai Kande Amsakar Achmad,” kata Poey.
Perjalanan panggungnya tidak hanya di Batam. Hampir seluruh wilayah Kepulauan Riau pernah disambanginya.
Di Riau, Poey pernah tampil di Pekanbaru, Dumai, dan Duri. Sementara di Sumatera Barat, ia menyebut Padang, Pariaman, dan Bukittinggi sebagai sejumlah daerah yang pernah menjadi tempatnya menghibur masyarakat.
“Di Padang, Pariaman, Bukittinggi saya beberapa kali tampil,” ujarnya sambil membetulkan topi yang menutupi rambut gondrongnya.
Tetap Bugar di Usia 56 Tahun
Di usia 56 tahun, Poey masih terlihat bugar dan penuh energi. Aktivitas panggung yang padat tampaknya tidak membuat stamina pria tersebut menurun.
Saya pun penasaran dengan rahasianya menjaga kebugaran.
“Bagaimana kiat menjaga stamina agar tetap prima saat tampil?” tanya saya.
Jawabannya sederhana.
“Kita jaga pola hidup sehat dan pola makan. Olahraga dan jogging wajib rutin dilakukan,” katanya.
Poey mengaku tidak mengandalkan suplemen khusus untuk menjaga kondisi tubuhnya. Baginya, pola hidup sehat menjadi kunci utama agar tetap mampu tampil maksimal di atas panggung.
Kini Lebih Banyak Merilis Single
Bersama grup Sting, Poey memiliki sejumlah lagu yang dikenal para penggemarnya. Di antaranya “Dalam Diam Aku Mencintaimu”, “Kau Tetap Ku Hajati”, “Ingatku Dalam Doamu”, “Adakah Kau Setia”, “Ku Sapu Air Mata Perpisahan”, dan “Kepadamu Kekasih Hati”.
Namun, perkembangan industri musik membuat pola produksi karya ikut berubah.
Jika dahulu musisi terbiasa memproduksi satu album yang berisi banyak lagu, kini strategi tersebut mulai bergeser.

“Sekarang kami buat satu lagu. Kalau dulu satu album. Beberapa tahun terakhir ini kami rilis satu lagu, bukan satu album,” ungkapnya.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi dan cara masyarakat menikmati musik yang kini semakin digital.
AI Membantu, Tetapi Tidak Bisa Menggantikan Rasa
Pembicaraan kemudian bergeser ke perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini semakin masuk ke industri kreatif.
Sebagai seorang seniman, Poey menyadari bahwa musisi harus mampu mengikuti perubahan zaman.
Menurutnya, AI dapat memberikan bantuan dalam proses menciptakan lagu, termasuk menyusun aransemen dan membangun harmonisasi.
Namun, ia menilai teknologi tetap memiliki batas.
“AI adalah mesin. Tidak memiliki rasa seni dan kemanusiaan,” katanya.
Menurut Poey, sebuah lagu tidak hanya membutuhkan suara yang sempurna, tetapi juga penjiwaan. Karena itu, ia merasa karya yang sepenuhnya dibuat atau dibawakan mesin akan memiliki kekurangan dari sisi emosi.
“Kalau AI yang bernyanyi, terasa hampa tanpa penjiwaan karena mesin yang bernyanyi,” ujarnya.
Ia kemudian membandingkan seni musik dengan film. Film dapat menyentuh emosi penonton melalui perpaduan gambar dan suara. Sementara dalam musik, hanya dengan suara seorang penyanyi, seseorang bisa tersentuh bahkan sampai meneteskan air mata.
“Itu suatu kepuasan sekaligus kebanggaan bagi kami sebagai penyanyi dan penghibur,” katanya.
Tak Tertarik Terjun ke Politik
Obrolan kemudian memasuki topik politik.
Dengan basis penggemar dan popularitas yang dimilikinya, saya penasaran apakah Poey pernah memiliki keinginan untuk masuk ke dunia politik.
Jawabannya langsung dan tegas.
“Saya tak berminat jadi politisi. Sedap jadi penyanyi atau penyanyi saja,” katanya sambil tersenyum.
Menurutnya, dunia hiburan dan politik memiliki karakter yang sangat berbeda. Ia memilih tetap berada di dunia yang selama ini membuatnya nyaman, yakni bermusik dan menghibur masyarakat.
“Di Malaysia sedikit sekali artis yang jadi politisi karena memang mereka tidak berkeinginan menjadi politisi,” tambahnya.
Penyanyi yang Ternyata Insinyur
Menjelang akhir perbincangan, pembicaraan beralih kepada latar belakang pendidikan Poey.
Di balik sosoknya sebagai penyanyi, ternyata ia memiliki latar belakang pendidikan teknik mesin otomotif.
Kecintaannya terhadap musik bahkan sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku kuliah. Saat itu, Poey kerap tampil dalam berbagai acara kampus hingga pesta pernikahan.
“Pabrik mobil Malaysia Proton membuat kampus pendidikan. Saya alumni pertama jurusan mesin otomotif, sekitar tahun 90-an,” ungkapnya.
Perjalanan hidupnya pun menjadi menarik. Pendidikan teknik membawanya mengenal dunia otomotif, sementara musik justru menjadi jalan yang kemudian membentuk kariernya hingga sekarang.
Pertemuan Singkat yang Menjadi Cerita Panjang
Pertemuan yang awalnya sama sekali tidak direncanakan itu akhirnya berubah menjadi obrolan panjang dan menyenangkan.
Dari sebuah meja kafe di Batam Centre, pembicaraan berkembang ke berbagai topik: panggung hiburan, perjalanan bermusik, kesehatan, perkembangan AI, politik, hingga pendidikan.
Lebih dari sekadar bertemu seorang penyanyi Malaysia, perjumpaan itu memperlihatkan sisi lain seorang Poey Stings—seniman yang tetap aktif berkarya, menjaga kesehatan, terbuka terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap meyakini bahwa rasa, jiwa dan sentuhan manusia tidak mudah digantikan oleh mesin.
Dan mungkin, begitulah menariknya sebuah pertemuan yang tidak direncanakan: bermula dari satu meja di sebuah kafe, tetapi meninggalkan cerita yang jauh lebih panjang daripada secangkir kopi.














