NATUNA | METROBATAM.COM – Berada di wilayah perbatasan dengan karakter geografis yang didominasi lautan, Kabupaten Natuna masih menghadapi sejumlah tantangan besar dalam pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kondisi tersebut kembali disampaikan Bupati Natuna, Cen Sui Lan, saat bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Arif Havas Oegroseno. Dalam pertemuan tersebut, Bupati menyampaikan sejumlah kebutuhan strategis Natuna yang dinilai membutuhkan dukungan lebih kuat dari pemerintah pusat.
“Bersama Wakil Menteri Luar Negeri RI, Bapak Arif Havas Oegroseno, saya berdiskusi tentang Natuna dan berbagai kebutuhan masyarakat kita,” ujar Cen Sui Lan dalam keterangannya.
Ada sedikitnya tiga kebutuhan utama yang menjadi perhatian, yakni penguatan konektivitas, revitalisasi pelabuhan untuk mendukung aktivitas ekonomi, serta perlindungan dan pengembangan sektor perikanan masyarakat Natuna.
Cen Sui Lan menilai persoalan konektivitas masih menjadi salah satu kendala utama bagi masyarakat Natuna. Kondisi geografis yang sebagian besar berupa lautan membuat akses transportasi menjadi faktor penting dalam mempercepat pembangunan.
Kabupaten Natuna memiliki luas wilayah sekitar 264.198,37 kilometer persegi, dengan sekitar 99,24 persen berupa lautan dan hanya 0,76 persen daratan.
Dari sekitar 154 pulau yang berada di wilayah Natuna, hanya sebagian yang dihuni masyarakat. Kondisi tersebut membuat rentang kendali pemerintahan dan pelayanan publik menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, Cen Sui Lan meminta pemerintah pusat membuka penerbangan langsung Ranai–Jakarta.
Selama ini, masyarakat yang hendak bepergian dari Natuna menuju Jakarta umumnya harus melalui Batam terlebih dahulu. Kondisi tersebut dinilai menambah waktu perjalanan sekaligus meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat.
“Kami memohon solusi untuk membuka akses atau rute Natuna-Jakarta secara langsung. Ini sangat penting untuk menekan biaya perjalanan masyarakat dari dan menuju Natuna,” tegas Cen Sui Lan.
Selain konektivitas udara, Bupati Natuna juga menyoroti pentingnya revitalisasi pelabuhan.
Menurutnya, posisi Natuna yang strategis di kawasan perbatasan dapat dikembangkan tidak hanya sebagai wilayah terdepan Indonesia, tetapi juga sebagai bagian dari jalur distribusi dan aktivitas ekonomi.
Natuna diharapkan dapat memiliki fasilitas pelabuhan yang lebih memadai sehingga mampu mendukung aktivitas barang, termasuk peluang pengembangan sebagai daerah transit barang ekspor dan impor sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia.
Persoalan berikutnya yang menjadi perhatian adalah keberlangsungan kehidupan nelayan tradisional.
Cen Sui Lan meminta adanya perlindungan bagi nelayan tradisional Natuna agar mereka tetap memiliki ruang untuk menjalankan aktivitas ekonomi di wilayah perairan sendiri.
Natuna sendiri memiliki potensi perikanan dan kelautan yang besar. Salah satunya adalah komoditas ikan Napoleon yang menjadi bagian dari potensi ekonomi perikanan daerah.
Saat mengunjungi kawasan Sedanau, Bunguran Barat, Wamenlu Arif Havas Oegroseno juga melihat langsung potensi perikanan Natuna.
Menurutnya, produk perikanan Natuna memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar internasional, termasuk Jepang, China dan Singapura.
Dalam pertemuan tersebut, Cen Sui Lan juga memaparkan sejumlah program nasional yang tengah berjalan di Natuna.
Di antaranya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di 20 titik, Koperasi Desa Merah Putih di 35 titik, serta rencana pembangunan Sekolah Rakyat dengan nilai alokasi sekitar Rp250 miliar.
Untuk mendukung pembangunan Sekolah Rakyat tersebut, pemerintah daerah disebut telah menyiapkan lahan seluas sekitar 11 hektare.
Selain itu, Bupati turut menyampaikan sejumlah persoalan lain yang masih membutuhkan perhatian pemerintah pusat, termasuk Dana Bagi Hasil (DBH) yang belum sepenuhnya ditransfer, kebutuhan fasilitas pendaratan ikan, serta persiapan Natuna sebagai salah satu daerah yang akan menjadi tuan rumah Porprov Kepri 2028.
Salah satu kebutuhan pendukung kegiatan olahraga tersebut adalah pembangunan kolam renang yang representatif.
Wamenlu RI Arif Havas Oegroseno menegaskan bahwa Natuna memiliki posisi strategis bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia karena berada di wilayah perbatasan dan berhadapan langsung dengan sejumlah negara.
Potensi Natuna juga tidak hanya berada pada sektor kelautan. Wilayah ini memiliki potensi migas, termasuk Blok Tuna, serta kekayaan geopark yang menjadi bagian penting dari pengembangan pariwisata dan ekonomi daerah.
Dalam pertemuan tersebut turut disinggung rencana pengembangan Blok Tuna yang diproyeksikan mengirimkan gas ke Vietnam melalui pipa bawah laut pada 2030.
Di sektor pariwisata dan konservasi, Geopark Nasional Natuna juga disebut telah masuk sebagai kandidat Aspiring UNESCO Global Geopark (UGGp) 2026.
Cen Sui Lan berharap berbagai potensi strategis tersebut dapat diikuti dengan penguatan dukungan pemerintah pusat sehingga manfaat pembangunan dan kekayaan alam Natuna benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
“Kami berharap dukungan pemerintah pusat semakin kuat, agar potensi Natuna dapat berkembang dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
(Budi)














