TANJUNGPINANG, METROBATAM.COM – Krisis listrik yang melanda Kota Tanjungpinang dan wilayah Pulau Bintan dalam beberapa hari terakhir semakin memicu kemarahan masyarakat. Pemadaman bergilir tanpa kepastian waktu pemulihan membuat warga resah, aktivitas ekonomi terganggu, hingga kebutuhan dasar seperti air bersih ikut terdampak.
Gelombang protes pun terus bermunculan. Pada Rabu (14/10/2026), puluhan warga yang tergabung dalam konsolidasi masyarakat mendatangi Kantor PLN ULP Tanjungpinang Kota untuk menyampaikan aspirasi dan menuntut kepastian penyelesaian krisis listrik.
Pada hari yang sama, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tanjungpinang-Bintan juga menggelar aksi unjuk rasa di Kantor PT PLN (Persero) UP3 Tanjungpinang.
Dua aksi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat mulai kehilangan kesabaran menghadapi gangguan pasokan listrik yang tak kunjung tuntas.
Dalam audiensi di Kantor PLN ULP Tanjungpinang Kota, perwakilan masyarakat menegaskan bahwa kedatangan mereka merupakan bentuk konsolidasi untuk menghimpun keluhan warga yang selama ini disampaikan secara langsung maupun melalui media sosial.
“Aspirasi akibat dari keluhan yang hingga detik ini tidak tuntas, Pak. Kami di sini konsolidasi, penjaringan aspirasi masyarakat. Banyak aspirasi yang sudah kami tampung, baik langsung yang hadir di sini maupun di sosial media,” ujar perwakilan warga.
Masyarakat juga memberikan peringatan tegas kepada PLN. Mereka menyatakan siap menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan dan aspirasi tersebut tidak mendapat penyelesaian konkret.
“Kedua, jika aspirasi kami tidak ditanggapi, mungkin kami akan melakukan aksi yang jauh lebih besar,” tegasnya.
Selain menuntut pemulihan pasokan listrik, warga turut menyoroti komunikasi publik PLN yang dinilai belum memberikan kejelasan. Beredarnya berbagai informasi, mulai dari dugaan sabotase hingga kabar kerusakan kabel bawah laut, menambah keresahan masyarakat.
Warga berharap PLN memberikan informasi yang akurat, terbuka, dan konsisten agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Menanggapi tuntutan tersebut, Manager ULP Tanjungpinang Kota, Rafki, didampingi Team Leader K3 dan Keamanan, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat sekaligus menjelaskan kronologi gangguan pasokan listrik.
Rafki mengatakan, persoalan yang terjadi berkaitan dengan gangguan pada sistem interkoneksi Batam-Bintan yang menjadi jalur penting penyaluran energi listrik ke Pulau Bintan, termasuk Kota Tanjungpinang.
“Kami terima kasih kepada masyarakat yang sudah menyampaikan aspirasi dengan tertib, dan kepada pihak kepolisian yang menjaga. Kami memahami situasi ini sangat mencekam bagi warga,” ujar Rafki.
Ia menjelaskan, gangguan teknis berupa kendala tegangan terjadi pada jalur dari Air Raja menuju Kijang dan Tanjung Uban. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan listrik dari Batam belum dapat disalurkan secara penuh ke sistem kelistrikan Bintan.
Menurut Rafki, proses pemulihan telah dilakukan secara bertahap. Pasokan awal diprioritaskan untuk menghidupkan kembali sejumlah wilayah Kabupaten Bintan yang sebelumnya mengalami pemadaman hingga 53 jam, di antaranya Kijang, Tanjung Uban, Gesek, dan sekitarnya.
Terkait informasi yang beredar di media sosial, Rafki menegaskan bahwa gangguan tersebut bukan disebabkan sabotase maupun kabel bawah laut yang putus total.
“Bukan sabotase, bukan kabel bawah laut putus total. Ini murni kendala teknis tegangan yang membutuhkan sinkronisasi sistem,” jelasnya.
PLN Targetkan Listrik Normal dalam 1×24 Jam
Di tengah meningkatnya tekanan masyarakat, Rafki menyampaikan target pemulihan pasokan listrik di Tanjungpinang.
“Target kami listrik Tanjungpinang normal kembali dalam 1×24 jam setelah pasokan Batam stabil masuk ke sistem Bintan. Tim kami di lapangan bekerja 24 jam. Pemadaman bergilir masih akan terjadi hari ini untuk menjaga sistem tidak collapse, tapi durasinya akan kita perkecil,” kata Rafki.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian warga yang menginginkan kepastian waktu pemulihan. Masyarakat berharap target yang disampaikan PLN benar-benar direalisasikan, bukan sekadar menjadi janji di tengah situasi yang semakin mendesak.
Rafki juga meminta masyarakat yang mengalami kerusakan perangkat elektronik akibat gangguan listrik untuk melaporkannya melalui aplikasi PLN Mobile agar dapat didata dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Tanjungpinang-Bintan, Ilham Bani Arrasyid, menilai krisis listrik yang terjadi tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan teknis. Menurutnya, ketidakpastian jadwal pemadaman turut mengganggu aktivitas masyarakat dan memperberat pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Ia juga menyoroti persoalan ketersediaan air bersih yang dinilai semakin menyulitkan warga ketika pasokan listrik terganggu.
“Listrik dan air adalah sumber kehidupan. Jangan biarkan kami berada dalam ketidakpastian informasi. Hari ini masyarakat sudah berada di ambang batas kesabaran, bahkan untuk mandi dan memenuhi kebutuhan dasar saja terasa berat,” tegas Ilham.
Bagi HMI, masyarakat tidak cukup hanya menerima penjelasan mengenai penyebab gangguan. Mereka membutuhkan informasi yang transparan, jadwal pemadaman yang jelas, serta langkah nyata agar pelayanan listrik kembali normal.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak krisis listrik tidak hanya dirasakan rumah tangga, tetapi juga berpotensi menghambat kegiatan usaha, pelayanan publik, dan perputaran ekonomi masyarakat.
Jumat Jadi Tenggat Tekanan kepada PLN
Dalam audiensi bersama pihak PLN ULP Tanjungpinang Kota, masyarakat menyatakan akan menunggu realisasi target pemulihan hingga Rabu sore.
Apabila janji tersebut tidak terpenuhi, warga mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Tenggat tersebut menjadi ujian bagi PLN untuk membuktikan komitmennya dalam memulihkan pasokan listrik sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Di tengah situasi yang semakin memanas, masyarakat berharap seluruh pihak dapat mengutamakan keselamatan, menjaga ketertiban, dan mendorong penyelesaian yang nyata.
Kini, warga Tanjungpinang menanti satu hal yang paling mendasar: listrik kembali menyala secara normal, informasi disampaikan secara terbuka, dan ketidakpastian yang selama ini membebani masyarakat segera berakhir.
(Budi)














