oleh

Soal Kekerasan pada Jurnalis di Medan, Ini Janji Panglima TNI

Metrobatam.com, Medan – Ketua Dewan Pers (DP) Yosep Adi Prasetyo mengatakan, Panglima TNI, Jend (TNI) Gatot Nurmantyo telah berjanji akan menyelesaikan hingga tuntas kasus kekerasan, pelecehan seksual dan penghalangan peliputan terhadap jurnalis, yang diduga dilakukan oknum TNI AU saat para jurnalis meliput bentrok antara TNI AU dari Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo Medan dan warga di Sarirejo, Polonia, Medan, pada 15 Agustus 2016.

Bahkan di dalam prosesnya, kata Yosep, Jenderal Gatot juga menjamin tidak akan ada teror dari orang tidak dikenal kepada korban maupun orang terdekatnya, serta para saksi dalam kasus itu. “Kita tadi sudah bertemu Panglima TNI. Hampir sejam kami bicara dengan Panglima dan menghasilkan beberapa kesepakan. Intinya bahwa, kasus yang terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara akan serius di selesaikan,”ujar Yosep dalam keterangan pers yang diterima wartwan, Kamis malam.

Yosep menyebutkan, dalam pertemuan itu pula, pihaknya juga memberikan kepada Panglima TNI, berkas laporan dari Kelompok Kerja (Pokja) Penaggulangan Kekerasan Terhadap Wartawan, yang telah mengumpulkan data dari lapangan terkait kasus tersebut. “Saat menerima laporan tersebut, Panglima TNI yang didampingi oleh pejabat Intelijen TNI berbintang dua, Kapusten bintang dua, Kadiv Hum bintang dua dan jajaran TNI lainnya,” terang Yosep.

Adapun berkas yang diberikan, sebut Yosep, berupa dokumen laporan tim mengenai keadaan korban. Termaksud identifikasi pelakunya yang terkumpul dari Tim Pokja sesuai dengan Standar Operation Procedur (SOP) Dewan Pers.

“Panglima TNI janji akan menindak lanjuti, namun beliau minta waktu karena ada dua jalur. Sebab beliau mendorong POM AU aktif, dan juga ada tim dibawah Dirjen yang disiapkan untuk me-backup. Panglima akan cover mengenai progresnya,” terang Yosep.

Ketua Dewan Pers juga menjabarkan obrolan lain dengan Panglima TNI, terkait desakan agar di dalam proses penyelesaian kasus di Medan tidak diperlambat. “Tadi kami sampaikan proses ini berjalan lambat di lapangan dan temen-temen di Sumut berharap ini bisa serius dan lebih cepat merespon karena publik juga menunggu apa tindak lanjut dari POM AU,” tegasnya.

“Panglima TNI katakan serius untuk menangani ini. Namun ia tadi mengakui bahwa membutuhkan waktu, sambil menyebutkan ada beberapa kasus yang lain yang pernah dia tangani (termaksud kategori kasus besar) itu membutuhkan waktu antara 6-7 bulan. Kasus di Medan yang telah mendapat perhatian publikpun Panglima tegaskan serius menangani, yang dalam waktu dekat akan koordinasi dengan bagian hukum,” terang Ketua Dewan Pers kembali.

Hal lain yang turut disampikan Ketua Dewan Pers, adalah terkait terus berulangnya kasus serupa yang dilakukan Korps TNI AU, yakni seperti kasus yang belum lama terjadi di Kota Pekan Baru, Padang, Malang, lalu di Kota Medan. “Kita tanyakan tadi, kenapa ada trend TNI AU melakukan ini secara berulang, mulai dari Pekan Baru, kemudian beberapa tempat yang lain, seperti di Malang, dan terjadi lagi di Polonia. Sementara di TNI AD sudah tidak ada lagi kekerasan. Nah apakah ini ada sesuatu dibalik kekerasan ini yang terkait dengan Matra AU kita,” bebernya lagi.

Setelah pertemuan hampir satu jam dengan Panglima TNI tersebut, Ketua Dewan Pers mengambil kesimpulan bahwa ada optimisme bila kasus yang menimpa jurnalis di Medan akan selesai dengan tuntas. “Menurut saya positif tadi pertemuannya, dan memberikan semacam optimisme bagi kami bahwa Panglima TNI, Gatot Nurmantyo serius untuk menangani kasus ini. Dan menurut saya beliau dengan kapasitas sebagai panglima yang sudah mengatakan komitment, termaksud jaminan karena ini perbuatan prajurit di lapangan, maka pasti ada perintah ke bawah untuk tidak mengganggu para korban,” jelasnya.

Terkait dengan usulan Dewan Pers agar dilakukan nota kesepahamanan atau memorandum of understanding (MoU) dengan TNI, Panglima menyatakan kesetujuannya. “Ketika kita tawarkan untuk membuat MoU, guna mencegah kasus serupa berulang, Panglima TNI setuju. Dan beliau menunjuk Kadiv Hum untuk memimpin tim dari TNI serta draft Mou-nya akan disiapkan antar dua tim bersamaan dengan Dewan Pers. Targetnya Februari 2017 selesai dengan turut disaksikan Presiden,” tutupnya.

Terpisah, Del (24), satu-satunya korban yang selain mengalami kekerasan, penghalangan peliputan juga pelecehan mengaku mulai mendapatkan pesan singkat (SMS) dari orang tidak dikenal (OTK) yang berisi teror agar perkara tidak dilanjutkan. Parahnya, teror tidak hanya ditujukan kepada korban, namun juga orangtuanya.

Untuk diketahui, beberapa jurnalis yang memberikan kuasa hukum kepada Tim Advokasi Pers Sumut dan sudah melakukan pelaporan ke POM AU yaitu Array Argus (Harian Tribun Medan), Teddy Akbari (Harian Sumut Pos), Fajar Siddik (medanbagus.com), dan Prayugo Utomo (menaranews.com), dan Del (matatelinga.com) satu-satunya korban yang mendapat pelecehan.

Adapun perkara yang dilaporkan Tim Advokasi Pers Sumatera Utara, yakni pelanggaran Pasal 351 jo Pasal 281 KUHP Jo Pasal 170 KUHP Jo. Pasal 18 ayat 1 UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers.

 

Mb/Okezone

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed